Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Efek Tsunami Selat Sunda, Pengusaha Hotel Anyer Teriak, Sesalkan BMKG

0 85

PALU EKSPRES, BANTEN – Musibah tsunami di Selat Sunda berdampak terhadap dunia pariwisata. Terutama para pebisnis perhotelan. Mereka mengalami kerugian karena tingkat okupansinya menurun. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pun menyesalkan sikap Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Ketua Harian PHRI Propinsi Banten GS Ashok Kumar menuturkan, para pengusaha hotel di Anyer tak terima dengan isu tsunami yang seolah-olah melanda Anyer. Padahal tsunami di Selat Sunda menerjang wilayah Carita dan Pandegelang, bukan Anyer.

“Awalnya gelombang tinggi setelah besoknya dikatakan tsunami,” ungkap GS Ashok Kumar dalam keterangan tertulis kepada JawaPos.com, Senin (31/12/2018).

Atas kebijakan BMKG itu, kata GS Ashok Kumar, PHRI menyatakan keberatan. Semula pada saat kejadian dikatakan hanya rob atau gelombang tinggi.

Bentuk penyesalan PHRI pada BMKG, yakni sebelumnya dikatakan dampak tsunami itu di wilayah Anyer. Padahal wilayah Anyer masih jauh dari Carita dan Pandegelang.

Contoh kawasan wisata dan hotel di Anyer yang tidak terkena dampak tsunami yakni di Lembah Hijau Bandulu dan Pondok Layung, Jalan Raya Karang Bolong, Banten. Di sana sama sekali tak terkena dampak tsunami dan beroperasi saat tsunami terjadi.

Tak ayal statemen dari pihak BMKG itu berdampak pada penurunan pengunjung. Terutama di ujung tahun. Biasanya pada libur tahun baru tingkat okupansi hotel sangat tinggi. “Makanya penurunan pengunjung sangat besar hampir 95 persen karena isu tsunami Anyer,” tukasnya.

(ika/JPC)

 

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.