Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Integritas Akademik

Oleh: Muhd Nur Sangadji

0 128
Menjelang Hari Natal dan Tahun baru ini,, tiba tiba saya rindu pada sosok guru-guru ku di Kampus Tadulako ini, puluhan tahun silam. Ingatan  itu begitu kuat berkait karakter dan integritas akademik yg dijaganya. Adalah Ir. Puji Sulaksono. Sang Guru yang lemah lembut tapi teguh pendiriannya dalam menjaga roh akademik. 
 
Kala itu, memasuki minggu ke tiga Desember 1986. Seorang mahasiswa, kawan kami (saya tidak boleh sebut nama untuk etika journalist), datang menghadap sang Guru. Meminta dipercepat keluar nilai ujiannya. Ini dilakukannya,  berhubung ingin segera pulang  kampung untuk merayakan Natal dan Tahun baru bersama Keluarga. 
 
Pak Puji mempersilahkan yang bersangkutan duduk di ruang tamu. Beliau masuk ke kamar beberapa lama. Ternyata untuk memeriksa pekerjaan mahasiswa bersangkutan. Begitu keluar kamar, diserahkanlah kartu kuning yang berisi nilai. Dan,  nilainya adalah E. 
 
Sebagai manusia, kawan kami ini pastilah sangat sedih dan kecewa. Tapi, itulah harga dari usahanya sendiri. Kita mungkin berfikir amat “tega”nya guru yang satu ini. Bukankah, menjelang natal dan tahun baru, apa salahnya menyenangkan hati muridnya. Anggaplah itu hadiah. Ternyata tidak. Sosok Guru ini begitu kuat menggenggam hakekat objektifitas dan kejujuran ilmiah. Di era disrupsi ini, saya rindu hal ini hadir kembali.
 
Terlihat tega, tapi dia akan selamatkan peradaban insaniah yang lebih luas. Kita mencetak manusia dengan cara yang bermartabat. Di bawah prinsip kemandirian,  keadilan, ketekunan individu dan konfiden. Maka akan lahirlah manusia yang menggenggam kuat kepribadian professional untuk kemaslahatan. 
Kalau kelak dia menjadi guru, dia akan mencetak murid yang hebat. Bila dia dokter, dia tidak akan memproduksi mal praktek hanya karena memburu rupiah. Kalau dia arsitektur,  tidak akan bangun konstruksi rawan roboh karena mengirit material untuk kantong kecurangan. Semuanya, dimulai dari bentukan integritas dan Karakter pada saat Sekolah. 
 
Di kali yang lain,  ada kawan kami (sy juga tak boleh sebut nama untuk atas nama etika),  khilaf menjiplak tanda tangan. Rapat pimpinan memutuskan menskorsing satu semester untuk kenakalan akademik ini. 
 
Dia, Ir. Idris, Dekan Fakultas Pertanian yang beberapa kali bergantian posisi dengan Ir. Masril Bustami, MSc. Semua guru-guru ku yang kini menjadi partner dalam profesi, bisa bertestimoni. Mereka semua bertindak menyemai benih keadaban akademik yang harus terus di rawat oleh penerusnya. Memang, zaman  telah berubah, tapi integritas, karakter dan moral tetaplah stabil. Dia abadi hingga kiamat. 7
 
Ada cerita lain, datang dari prof Konder Manurung, karib saya yang sama-sama sekolah di Prancis. Saat beliau kuliah di Universite de Tours, France. Jurusan yg diambilnya, tahun depannya akan ditutup untuk keseimbangan kebutuhan profesi. Tapi, waktu ujian akhir, hampir setengah temannya dinyatakan tidak lulus. Bukankah jurusan itu sudah tidak ada tahun depan ? Mengapa tidak diluluskan semuanya saja..? 
 
Pertanyaan berikutnya, apakah mereka,  Tegaa..? Menurut saya, Tidaak.  Itulah integritas dan karakter akademik. Keduanya, integritas dan karakter itu, tetap tegar dan tegak di saat pragmatisme  merasuk dan merusak sendi pendidikan. Godaan begitu kencang hingga  terkadang kita terjebak pada bangunan kebanggaan palsu dari prestasi yang kita rekayasa. Namun, nurani kita pastilah menolaknya. Lain hal kalau kita sudah tidak memilikinya. 
 
Itulah sebabnya Mahatma Gandi, pernah berucap tentang tujuh hal yang amat beliau risaukan melanda India. Negeri tempat dia dilahirkan. Tujuh hal itu masih ada  hingga kini. Terukir sebagai prasasti di tempat dia dikuburkan. Populer sekali dengan “seven social sins” (tujuh dosa sosial).  Salah satu dari tujuh itu adalah knowledge without character.  Lahir dari proses akademik yang tidak berintegritas. Sangat berbahaya bagi generasi sebuah Bangsa.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.