Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Huntara Balaroa Terkendala Lahan

0 123

PALU EKSPRES, PALU – Kelambatan pembangunan hunian sementara (Huntara) bagi korban bencana di Palu salah satunya disebabkan penyediaan lahan. Kendala demikian dialami korban gempa dan likuifaksi Kelurahan Balaroa Kecamatan Palu Barat Palu.

Akibatnya, hingga saat ini pengungsi masih saja tinggal di tenda-tenda darurat sekitar titik terjadinya bencana.

Lurah Balaroa Rahmansyah membenarkan kendala itu. Penyediaan lahan menurut dia baru akan diupayakan saat ini. Rahmansyah mengaku saat ini baru ada salahsatu warganya yang mengaku akan meminjamkan lahannya untuk pembangunan Huntara itu.
“Ada warga kami yang mengizinkan lahannya seluas kurang lebih dua hektar. Sudah ditinjau langsung dinas terkait,”ungkap Rahmansyah, Kamis 20 Desember 2018.

Pihaknya jelas Rahman, akan berusaha mencari lahan lainnya apabila lahan yang telah ada tersebut tidak memadai.
“Kita akan lobi warga lainnya. Siapa tahu masih ada yang bersedia,”jelasnya.

Menurut dia, hingga saat ini warga korban bencana di Balaroa sama sekali belum ada yang direlokasi ke Huntara. Sementara tenda-tenda yang mereka gunakan selama ini sudah mulai rusak karena cuaca.
“Kami memang masih menunggu kejelasan terkait relokasi ini,”ujarnya.

Saat ini seluruh warga terdampak likuifaksi Balaroa menempati sebuah lahan sport center milik Pemkot Palu. Karena lokasi tersebut kebetulan tidak terlalu berjauhan dengan pemukiman mereka sebelumnya.
“Mereka (warga) maunya Huntara nantinya di kompleks sport center itu. Cuma kami pertimbangkan karena tanahnya bergelombang,”sebutnya.

Dia menjelaskan jumlah total penduduk di Kelurahan Balaroa kurang lebih 13ribu jiwa. Tersebar di tiga lingkungan. Lingkungan paling parah adalah lingkungan Perumnas dan sekitarnya.
“Perumans Balaroa sampai dengan seputaran pasar inpres itu dihuni sedikitnya lima ribu lebih penduduk,”katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun sementara, jumlah korban jiwa,meninggal maupun hilang sebanyak kurang lebih 1000 orang. Sedangkan jumlah rumah hilang dan rusak berat berkisar 1500 unit.
“Jadi sesuai data sementara, ada sedikitnya 800 kepala keluarga yang terdampak langsung gempa dan ikuifaksi. Mereka ini yang rencananya akan direlokasi ke Huntara maupun hunian tetap,”jelasnya lagi.

Menurut Rahmansyah, para pengungsi sangat berharap pembangunan Huntara bagi mereka mengambil lokasi yang berdekatan dengan pemukiman sebelumnya.
“Kebetulan lahan yang disediakan warga tadi itu tak jauh dari perumahan mereka,”imbuhnya.

Sejauh ini pula lanjut Rahmansyah, proses pendataan masih tetap dilakukan. Baik itu warga yang meninggal maupun hilang. Data yang ada saat ini menurutnya masih bersifat sementara
“Kami bersama forum warga Balaroa bekerja sama untuk validasi data tersebut,”pungkasnya.

(mdi/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.