Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Per 30 November, Penerimaan Perpajakan Capai Rp 1,301 Triliun

0 38

JAKARTA, PE – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan,
hingga 30 November 2018 penerimaan perpajakan mencapai Rp 1,301,4
triliun. Angka ini tumbuh 15,3 persen dibandingkan periode yang sama
di 2017 yang hanya sebesar Rp 1,129,1 triliun. persen.

“Secara total penerimaan kita tumbuhnya 15,3 persen untuk perpajakan.
Atau kita sudah mengumpulkan Rp 1,301 triliun atau 80 persen dari
total penerimaan yang dianggarkan (asumsi di APBN),” jelas Sri
Mulyani di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12/2018) .

Dia menjelaskan, untuk PPh migas, realisasi hingga 30 November 2018
sebesar Rp 59,8 triliun atau tumbuh 26,7 persen dibandingkan periode
yang sama tahun lalu. Hal ini didorong oleh kenaikan harga minyak
dunia.

“Penerimaan perpajakan kita cukup cukup menggembirakan. Dengan harga
minyak yang bagus dan dengan kurs, penerimaan untuk pph migas bahkan
pertumbuhannya mencapai 26,7 persen atau sudah menerima 156 persen
dari yang dianggarkan. Dari Rp 38 triliun, kita sudah mengumpulkan
hampir Rp 60 triliun sekarang, “jelasnya.

Untuk kategori pajak nonmigas, lanjut dia, hingga 30 November 2018
telah mencapai Rp 1.076,8 triliun atau tumbuh 14,8 persen. Angka ini
sebesar 77,7 persen dari target dalam APBN yang sebesar Rp 1,385,9
triliun.

“Untuk pajak nonmigas, ini disebut menyangkal ekonomi yang tidak
terpakai dari migas, itu pun pertumbuhannya tinggi, 14,8 persen, jauh
lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional hanya 5,1 persen.
Kitamang ditambah inflasi, dia juga lebih tinggi. Karena kita
memiliki rasio pajak kita menjadi lebih tinggi, karena ukuran GDP
naik hanya 8 persen, tapi pajak naik mendekati 15 persen. Maka rasio
pajak kita akan lebih baik, “kata Mantan Direktur Pelaksana Bank
Dunia ini.

Dari pajak nonmigas ini, penerimaan PPh nonmigas mencapai sebesar Rp
591,6 triliun atau naik 15 persen, pajak pertambahan nilai (PPN) Rp
459,9 triliun atau naik 14,1 persen, pajak bumi dan bangunan (PBB) Rp
18,7 triliun atau naik 28 persen dan pajak lain sebesar Rp 6,6
triliun atau naik 7,9 persen.

“PPh nonmigas tumbuhnya 15 persen dan PPN masih tumbuh di 14,1
persen. Mungkin, PBB tidak juga karena volatile pertumbuhannya. Yang
paling penting PPh nonmigas dan PPN yang bagus kegiatan ekonomi
bangsa kita,” kata dia.

Sedangkan dari sisi Bea dan Cukai, lanjutnya juga menunjukkan
pertumbuhan yang positif. Secara total, penerimaan dari kepabeanan
dan cukai hingga 30 November 2018 sebesar Rp 164,8 triliun atau naik
14,7 persen.

Untuk harga Rp123,3 triliun atau tumbuh 13,2 persen, biaya masuk
Rp35,4 triliun atau tumbuh 13,1 persen dan bea keluar Rp6,2 triliun
atau tumbuh 76,2 persen.

“Kepabeanan dan cukai juga sangat positif. Keseluruhan penerimaan
14,7 persen pertumbuhannya. Cukai tumbuh 13,2 persen, bea masuk 13,1
persen, bea keluar dari ini karena, dan kita sudah meningkat dua kali
lipat. kali lipat lebih dari yang dianggarkan. Tapi karena basisnya
kecil tidak terlalu mempengaruhi. Mengisi cukai ini sangat cukup
positif, “pungkasnya.

(srs / JPC)

 

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.