Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

IMM: Apa Bedanya Muhammadiyah dengan Parpol?

Amien Bakal 'Jewer' Haedar

0 268

PALU EKSPRES, JAKARTA – Pernyataan Amien Rais yang bakal menjewer Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir disesalkan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum IMM Najih Prastiyo, yang tak sependapat dengan mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), yang menentang dengan semangat yang telah dipernah digagas dalam Muktamar Muhammadiyah di Makassar pada tahun 1971.

“Muktamar itu menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak bisa dengan partai politik (parpol) apa pun dan menjaga jarak yang sama dengan semua parpol,” ujar Najih Prastiyo kepada wartawan, Rabu (21/11/2018).

Bentuk penyesalan IMM terhadap sikap Amien Rais yaitu tanwir Muhammadiyah di Denpasar pada tahun 2002 yang secara prinsip menyatakan bahwa Muhammadiyah berbeda dengan partai politik.

Pada khitah Muhammadiyah di Denpasar juga ditegaskan jika ada hal-hal yang genting, Muhammadiyah menjalankan peran sabagai kelompok-kelompok kepentingan, kelompok penduduk atau menyampaikan pendapat. “Kami mempertegas bahwa Muhammadiyah sesuai dengan khitah tidak mendukung beberapa orang yang suka seperti partai politik,” ujarnya.

Tidak ada anjuran untuk mendukung pasangan calon tertentu, kata Haedar, karena di dalam khitahnya tidak ada anjuran Muhammadiyah harus melakukan penyeragaman. Pemilihan politik dalam perhelatan pilpres.

Jika Muhammadiyah sampai mengeluarkan fatwa, maka ormas Islam ini akan terseret ke dalam pusaran politik praktis yang kontraproduktif sebagai gerakan dakwah. “Bila dukung-dukungan dilakukan apa pun bedanya Muhammadiyah dengan tim sukses atau pun parpol pendukung calon presiden?” Sayalah mempertanyakan sikap Amien Rais yang juga lebih tinggi dari Ketua PP Muhammadiyah .

Dia menegaskan, Muhammadiyah adalah rumah bersama bagi seluruh elemen bangsa. Oleh sebab itu, DPP IMM mendukung sikap Haedar Nashir yang menjaga netralitas Muhammadiyah dan tetap berada di tengah sebagai ummatan wasathon (tengahan), yaitu dengan tidak memberikan salah satu capres. “Siapa pun yang akan terpilih menjadi presiden, kami tetap Muhammadiyah akan menjadi mitra pemerintah,” tandasnya.

Sebelumnya, Amien Rais saat pelaksanaan Milad ke-106 Muhammdiyah di Islamic Center, Surabaya, Selasa (20/11/2018) menegaskan bahwa Muhammadiyah harus memiliki sikap di Pilpres. Artinya Muhammadiyah harus menentukan pilihan atau menyebutkan untuk satu kubu. Sikap dukungan itu tidak harus terang-terangan menyebut nama salah satu pasangan topi atau cawapres.

Dia mencontohkan, sikap itu memilih capres-cawapres yang sebaliknya kriminalisasi ulama atau yang tidak suka ingkar janji. “Jadi, kalau Ketua PP Muhammadiyah mengatakan terserah, tentu akan saya jewer. Itu nggak betul,” kata Amien di Islamic Center, Surabaya, Selasa (20/11/2018).

(iil / JPC)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.