Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Sengketa Logika Pasca  Bencana Palu

0 398
Oleh : Muhd Nur Sangadji

SETELAH terjadi Gempa Palu, bertaburanlah anaIisis berkait penyebab terjadinya gempa dan kejadian ikutannya. Tsunami, liquifaksi dan tanah runtuh atau longsor atau tanah ambles.

Para penganalisis ini terpilah menjadi empat kelompok. Kelompok pertama menganggap sebagai peristiwa alam biasa. Kedua, peristiwa alam yang ditentukan oleh Allah. Ketiga,  menganggap sebagai akibat perbuatan manusia. Dan,  keempat, peristiwa alam yg di atur Allah dan berkorelasi dengan perilaku manusia.

Penyebab yang disengketakan mulai dari faktor fisik alamiah hingga faktor non fisik transedental terkait perilaku manusia. Kata Sengketa digunakan untuk menggambarkan bagaimana kerasnya percaturan logika dan akal tentang sebab musababnya. Sengketa pemikiran ini bahkan memanas karena tersentuh aspek kebijakan publik yang menghidupkan tradisi nenek moyang yang kontra dengan keyakinan religius.

Revitalisasi tradisi ini dikemas dalam bentuk festival kebudayaan yang dipopulerkan dengan nama Palu Nomoni (Palu bergetar/berbunyi). Entah  kebetulan atau takdir, setiap kali festival ini dilaksanakan, alam bereaksi, pas dihari penyelenggaraannya. Dan kali ini, bertepatan lagi dengan hari penyelenggaraannya, alam bukan cuma bereaksi, tapi benar benar murka.

Sesungguhnya, peristiwa alam itu berlangsung sangat alamiah (sunatullah). Dia memiliki dua skema. Gempa tektonik, erupsi gunung api, banjir bandang, angin puting beliung,  longsor,kebakaran hutan dan lainnya. Skema pertama disebut alamiah atau natural.  Inilah yang secara ekologis dikenal dengan istilah climasic, atau juga disebut ekosentris. Setiap dari semua jenis kejadian ini memiliki periode balik (la perode de retourne). Semuanya akan terjadi secara dinamis mengikuti hukum alam atau sistem alam (baca : ekosistem).

Bukit yang kokoh, satu waktu akan rontok (longsor) ketika beban yang dipikulnya tidak mampu lagi ditanggungnya.  Komponen alam yang lain seperti air hujan, angin, temperatur, kelembaban, vegetasi bekerja sinergis menguatkan atau melemahkan hingga pada batas daya tampungnya (carrying capacity). Gaya berat bahagian bukit akan bertambah. Boleh jadi, diikuti dengan terbentuknya lapisan kedap, berperan membentuk papan peluncur yang memfasilitasi bergeraknya massa tanah. Inilah peristiwa longsor atau tanah bergerak.

Bukit menemukan keseimbangan baru yang stabil hingga satu waktu dimana peristiwa longsor akan mengulang lagi. Semuanya, sekali lagi,  berlangsung alamiah dalam dinamika dan sistem alam, ada atau tidak ada manusia.

Skema yang kedua, dikenal anthropik atau antroposentris. Menggambarkan bahwa manusia ikut serta secara langsung atau tidak langsung. Banjir atau longsor secara alamiah dapat dipercepat dengan campur tangan manusia (human acceleration). Membuka Hutan dan atau menebang pohon sebagai contoh. Namun, menebang pohon adalah contoh tindakan fisik yang mudah dicerna untuk dipilih sebagai sebab.

Hal yang rumit adalah silang pendapat berkait contoh perilaku manusia yang bersifat non fisik (transcendental). Dan, bencana Palu menyisakan perdebatan di soal yang satu ini. Apa kaitannya, adat istiadat dan berbagai perilaku menyimpang (deviance behavior) lainnya sebagai penyebab ?

Mengapa rumit,, karena kita pasti berpandangan bahwa pertanyaan transcendental hanya bisa dijawab dengan keyakinan. Terutama spiritualitas dan atau lebih tegas lagi, agama. Itu berarti hanya termaktub dalam kitab suci sebagai bibliografinya. Itu juga berarti subjektif untuk pemeluknya saja. Meskipun, kalau kita bolak balik lembaran kitab suci dari agama manapun, akan terlihat batapa bencana alam punya korelasi dengan moralitas manusia. Tapi, tetap akan ada yang bilang, tidak ilmiah.

Padahal, kalau semua agama mengakuinya maka salah satu unsur ilmiah terpenuhi yaitu, aspek universalitas.  Selanjutnya, mari kita ikuti kaidah ilmiah lainnya. Gunakanlah pendekatan emperik melalui studi sejarah. Kita pasti bisa membuktikannya.

Pergilah ke Mesir dan masuklah ke dalam pyramids. Kita akan temukan tubuh kasarnya Ramses 2 atau Fira’un. Ini salah satu misal tentang bukti ilmiah yg dikabarkan oleh kitab suci. Maurice Bucaille,, ilmuan Perancis telah memperlihatkan cerita ini dalam buku berjudul “le Bible, le Quran et le Science Moderne”.

Banjir Nabi Nuh  sebagai misal yang lain.  Sejarah yang kabarkan kepada kita tentang negeri yang ditenggelamkan dengan banjir air bah. Bila banjir itu terjadi oleh penebangan hutan. Pertanyaannya,  ada berapa luas hutan alam yang di “land clearing” pada masa itu ? Maka penebangan hutan atau alasan campur tangan manusia secara fisik tidak relevan untuk banjir nabi nuh.

Alasan  alamiah yang dilabelkan ilmiah adalah karena intensitas curah hujan yang sangat tinggi (keras/berat dan lama).  Bumi terlewati kemampuan daya serapnya (absorbsi). Limpasan permukaan makin besar membentuk air bah yang menenggelamkan negeri. A priori, tidak ada “time series” yang menjelaskan mengapa ada anomali iklim ?

Alasan yang tersisa (baca : ilmiah) hanyalah faktor moral manusia (human attitude). Sebab, ada fakta sejarah yang menunjukan sejumlah orang diselamatkan dengan sengaja (Nuh beserta pengikutnya). Dan, sejumlah orang dibinasakan (baca : dengan sengaja oleh penguasa langit dan bumi), termasuk isteri dan anaknya Nuh. Jadi jelas bahwa agama bukan cuma doktrin teologi dan seruan dogmatis belaka. Pembuktian ilmiah dan fakta emperis scientific telah pula membuktikannya.

Karena itu, bencana yang tercipta sebagai ajab itu bisa dijelaskan. Ada fakta bahwa gunung yang tidak berkategori berapi, bisa erupsi atas kehendaknya. Api yang secara ilmiah harus panas dan membakar. Tapi,  dalam peristiwa nabi Ibrahim, malah dingin. Menyimpang dari kaidah ilmiah.  Apalagi kota Palu yang sudah jelas dilewati sesar yang jadi sebab alamiah sebagai rujukan apologi sains.  Pastilah lebih mungkin lagi tertimpa, tinggal tunggu saatnya. Dan, saat itu ternyata tanggal 28 September 2018. Bertepatan dengan diselenggarakannya lagi festival Palu Nomoni untuk tahun ke tiga.

Lalu, siapa yang salah  ?..Ada yang bilang,  kurang elok bila kita saling cari kesalahan. Tapi saya berfikir,  pada setiap kejadian mesti ada yang harus bertanggung jawab. Dan, sangat mungkin, kita termasuk di dalamnya. Tentu dengan kadar masing masing untuk diuji. Diuji sebagai bahan evaluasi diri dengan konsekwensi dunia akhirat. 

Selanjutnya, marilah terus berfikir karena itulah yang membedakan kita dengan mahluk yang lain terutama hewan. Mereka hanya punya insting, tapi tak punya logika berfikir. Karena itu pulalah, kita  bisa berfikir dan beriktiar untuk bangkit kembali.  Insya Allah…

 
(***/ palu ekspres)
 

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.