Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Relawan Satu Rasa Tolitoli Masih Bertahan di Palu.

Buka Dapur Umum dan Menggalang Bantuan

0 364

 

PALU EKSPRES,  PALU- Paska gempa, tsunami dan liquifaksi di Kota Palu, sejumlah komunitas relawan langsung mengambil bagian untuk membantu meringankan beban korban terdampak. Salah satunya komunitas satu rasa dari Kabupaten Tolitoli Sulawesi Tengah.

Dua hari paska gempa, tepatnya Senin 30 September 2018, komunitas ini sudah berada di Kota Palu. Saat situasi Kota Palu masih stagnan. Belum banyak relawan yang datang. Mereka langsung membuka dapur umum di lokasi pengungsian di Kompleks Perumahan Lagarutu. Salahsatu titik pengungsian terpadat paska gempa.

Di tempat itu warga dari Kelurahan Balaroa dan Petobo banyak mengungsi. Rata rata warga yang kehilangan rumah.

Hingga Kamis 11 Oktober 2018, komunitas pemuda dibawa naungan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Tolitoli ini masih tetap bertahan dengan dapur umumnya. Bersama warga, mereka setiap hari memasak nasi dan lauk. Siang dan malam.

Dalam sehari dapur umum yang mereka gagas memproduksi 500 sampai 800 nasi bungkus. Warga boleh langsung mengambil kesana. Ada pula yang mereka salurkan ke titik titik pengungsian selain di komplek perumahan Lagarutu.

“Setiap hari kami juga menyalurkan 300 nasi bungkus ke lembaga pemasyarakatan Petobo,”kata Andi Ahmad Syarif, Ketua DPRD Tolitoli, sekaligus koordinator komunitas satu rasa.

13 hari paska bencana, Ali, begitu dia akrab disapa menyebutkan, dapur umum satu rasa rencananya tetap akan ia buka. Meskipun kemudian masa tanggap darurat akan berakhir. Masih banyak kata dia relawan yang bersedia bertahan. Selain juga karena logistik bahan makanan masih tersedia.

“Kalau logistik masih banyak. Kita harus tetap bertahan. Kasihan para pengungsi. Sepertinya belum siap kami tinggal,”ujarnya.

Sejauh ini menurut dia, anggota dalam tim satu rasa yang ia pimpin masih menyatakan mampu bertahan. Namun mengingat diantaranya ada yang telah berkeluarga, maka ia memulangkan tim yang datang lebih awal. Dan digantikan dengan anggota tim yang baru.

“Sudah ada yang pulang. Tapi tim lain dari Tolitoli datang untuk mengganti mereka,”papar Ketua DPC Gerindra Tolitoli ini.

Soal biaya dapur umum, Ali mengaku didapat dengan cara swadaya. Selain juga mendapat bantuan logistik dari pihak luar. Termasuk mengorek dana dari kantong pribadinya.

Pola dapur umum ia nilai lebih efektif dilakukan ketimbang menyalurkan bantuan logistik dalam bentuk barang. Cara itu supaya para pengungsi tak perlu repot memasak untuk makan sehari hari.

Dia mengaku akan terus memantau situasi terkini di Kota Palu. Jika semakin pulih, dan logistik untuk dapur umum masih tersedia, maka dapur umum itu akan ia serahkan langsung kepada pengungsi di sekitar. Sambil menunggu kebijakan lain pemerintah mengenai relokasi para pengungsi.
(mdi/Palu ekspres).

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.