Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

YKF Gandeng Relawan dari Fakultas Tehnik UMI

Menembus Titik Terisolir Korban Gempa Sulteng

0 116

PALU EKSPRES, PALU- Yayasan Kemanusiaan Fajar (YKF) Makassar menggandeng sedikitnya 18 relawan dari Fakultas Tehnik Universitas Muslim Indonesia (UMI) untuk menyurkan bantuan logistik bahan makanan bagi korban gempa di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Ber posko di komplek perumahan Karajalemba Kabupaten Sigi, logistik bahan makanan bantuan YKF disalurkan merata ke tiga daerah terdampak. Penyaluran bantuan dilakukan atas permintaan dan laporan masyarakat.

Selain masyarakat, logistik bahan makanan juga disalurkan kepada seluruh karyawan PT Palu Ekspres. Termasuk karyawan dari sejumlah media cetak lokal di Palu Sulteng.

Relawan dari Fakultas Tehnik UMI Makassar sendiri mulai mendistribusikan logistik pada Rabu 3 Oktober 2018. Mereka juga terjun langsung mengevakuasi jenazah korban gempa di sejumlah titik terparah. Kamis 11 Oktober 2018 para relawan masih berjibaku dengan penyaluran logistik tersebut.

Koordinator relawan, Fahmi Sambila kepada Palu Ekspres menyebut, dampak gempa, tsunami dan liquifaksi di Palu Sigi dan Donggala sungguh diluar bayangan mereka. Dampaknya terlalu parah.

Karenanya mereka merasa begitu terpanggil untuk ikut meringankan beban korban. Menurut dia, kedatangan ke Kota Palu awalnya direncanakan bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Makassar. Namun terjadi mis komunikasi hingga akhirnya bertemu dengan managemen YKF.

Setibanya di Palu, relawan kata Fahmi dipertemukan dengan Direktur PT Palu Ekspres, Anita A Amier.

Sembilan hari paska gempar di Palu, Fahmi mengaku sudah menembus beberapa titik pengungsian yang masih terisolir untuk mendistribusikan logistik. Mereka pun menyempatkan diri ikut mengevakuasi jenazah di lokasi terparah dampak liquifasi. Kelurahan Balaroa dan Petobo.

Di Kabupaten Sigi, mereka bahkan paling pertama menyentuh pengungsi di sejumlah titik pengungsian di wilayah Kulawi dan Desa Jona Oge. Mereka menembus jalanan rusak, mengendarai ojek hingga berjalan kaki.

“Disitu (Kulawi), hari ke sembilan paska bencana kami mendapati ada sedikitnya 41 kepala keluarga yang sama sekali belum mendapat bantuan,”tutur Fahmi.

Selain Kulawi, dia bersama timnya juga berhasil menembus beberapa lokasi yang dilaporkan terisolir di pesisir pantai barat Kabupaten Donggala berbekal informasi dan petunjuk masyarakat.

“Kalau ada informasi mengenai titik pengungsian yang terisolir, itu yang kami utamakan. Karena lokasi pengungsian di perkotaan sudah banyak menerima bantuan,”tururnya.

Fahmi mengaku timnya masih bersedia bertahan di Kota Palu,meskipun masa tanggap darurat bencana akan berakhir, pada Jumat 12 Oktober 2018.

Sebab kata dia, masih teramat banyak laporan masyarakat yang mereka terima. Tentang adanya titik titik pengungsian yang sama sekali belum tersentuh.

“Kami masih menunggu, misalnya ada bantuan logistik dari pihak lain untuk disalurkan,”pungkasnya.
(mdi/Palu ekspres).

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.