Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Belajar dari Palu: MEMBUNUH KECONGKAKAN

Kisah nyata dan catatan dari saksi hidup gempa Palu

0 221

 

Oleh: Tutang Muhtar/Dosen Universitas Tadulako

Kehendak Allah, hanya itu bisa kita ucapkan, saya kira tidak ada yang bisa menafsirkan dengan narasi yang baik, kecuali kehendak Allah SWT, bagaimana tidak biasanya di satu daerah terjadi musibah bencana hanya satu jenis bencana baik itu gempa, tsunami, banjir bandang, penurunan tanah, kebakaran.

Tapi khusus palu dan sekitannya bencana yang sangat mustahil untuk pandangan manusia tapi tidak untuk Allah. Hampir semua kelurahan, spot punya jenis bencana yang sangat berbeda yang tidak bisa dinarasikan dengan Ilmu apapun.

Ada satu spot kawasan teluk Palu, Tuhan luluh lantahkan, dari icon kota Palu “Jembatan IV” yang begitu kokoh berdiri, rumah-ruman, warung, cafe hanya jadi cerita tanpa arti. Manusia bilang itu karena tsunami walau tanpa peringatan dini.

Semua nalar Ilmu manusia baik BMKG dan Pemerintah sepakat bencana 7,7 skala Richter (7,4 koreksi) adalah kajian terjadinya Tsunami

Ini bencana yang mengerikan, tidak ada dan sangat langka.
Berbagai kelurahan punya jenis bencana yg berlainan dalam satu waktu.
Sepanjang pantai Teluk Palu terkena serangan tsunami dalam waktu sekejap tanpa ada peringan dini.

Di kelurahan Balora, tepatnya di perumnas tanah seakan-akan di-“Blender”, di putar-putar tanah dan rumah ditenggelamkan, dan terbakar, rumah yang dua lantai kelihatan jadi satu lantai, jalan raya meninggi 2 sd 4 meter, seperti daerah bukit aspal, ratusan mungkin lebih orang terjebak dan bau mayat mulai menyengat.

Di kelurahan Petobo lain lagi, rumah-rumah seakan-akan ditenggelamkan dengan lumpur, rumah menjadi rata dengan badan jalan. Ratusan warga terutama manula dan anak-anak terjebak di dalamnya

Berita serupa

Jalan-jalan di kota Palu terbelah antara 2 cm sd 20 cm, dan terangkat meninggi lebih 20 cm.

Infrastruktur hotel, Ruko, masjid, dan rumah tinggal sudah tidak layak untuk ditempati dan mungkin harus di robohkan,

Belum kabupten Sigi, air yang langsung menerjang pedesaan diperkirakan korban ratusan

Belum fenomena banyaknya mayat yang belum di evakuasi, belum kelangkaan BBM, belum lagi tidak ada listrik dan tidak ada air bersih.
Korban meninggal diperkirakan lebih tiga ribu orang

Secara konstruksi pun, yang selama ini ada ilmu Rekayasa Beban gempa, semua tidak bisa membantu, kalau bumi sudah membelah rata-rata 10 cm atau 20 cm

Saya baru sadar Allah.menampar, membunuh kecongkakan keilmuan kita, menenggalamkan cinta dunia kita, membakar rasa individu kita, dan Allah rindu jeritan kita.

Kini manusia mulai berjamaah dengan tidur sama-sama, dengan meninggalkan kemewahan dengan alas seadanya, Manja makan enak dengan hidangan yang berkelas, hilang seketika dengan makan hanya mengganjal perut yg dulu sangat egois.

Kini mersakan bagaimana rasanya hidup dengan atap langit, tanpa listrik.
Kini merasakan bagaimana susahnya air bersih dan berbagi dengan tetangga.
Semuanya pasti ada hikmahnya untuk orang yang bersyukur dan berfikir.***

Pengurus FDI Sulteng
Dosen Universitas Tadulako

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.