Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Ratusan Guru Honorer di Malang Mogok Mengajar

0 45

 

 

PALU EKSPRES, MALANG – Ratusan guru tidak tetap (GTT) di Kabupaten
Malang menggelar aksi mogok mengajar. Hal itu sebagai bentuk protes
atas belum jelasnya regulasi pengangkatan GTT atau guru honorer
menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Aksi mogok mengajar sudah dilakukan sejak Rabu (26/9/2018) kemarin.
Berdasarkan data yang dimiliki JawaPos.com, aksi diikuti guru honorer
dari dua kecamatan. Yakni, Kecamatan Dampit dan Kecamatan
Sumbermanjing Wetan.

Dari Sumbermanjing Wetan, ada 350 GTT dan 50 pegawai tidak tetap
(PTT) yang sepakat untuk tidak bekerja. Dampak dari aksi mogok
tersebut adalah kegiatan belajar mengajar di sejumlah SD menjadi
lumpuh.

Belakangan diketahui, ada beberapa lembaga SD dengan tenaga pendidik
masih didominasi GTT. Seperti SDN I Sekarbanyu, Sumbermanjing Wetan.
Di sana, hanya ada dua guru berstatus PNS. Yakni, kepala sekolah dan
seorang guru.

Sementara GTT di SDN 1 Sekarbanyu sebanyak enam orang dengan jumlah
siswa 187 orang. Hal serupa juga terjadi di SDN Tambakasri. Sekolah
itu hanya punya dua PNS. Yakni, kepala sekolah dan seorang guru.
Sementara jumlah GTT sebanyak tujuh orang. “Kegiatan belajar mengajar
di sejumlah SD terpaksa tidak ada,” urai Korwil GTT Sumbermanjing
Wetan Misirin, Kamis (27/9/2018).

Misirin menjelaskan, aksi mogok dipicu regulasi rekrutmen CPNS 2018
yang dianggap tidak berpihak pada keadilan. Utamanya bagi GTT/PTT
yang sudah mengabdi puluhan tahun. Gaji yang mereka sebesar Rp 200
ribu setiap bulan, masih jauh untuk memenuhi kebutuhan.

Jika sampai beberapa hari ternyata belum ada kepastian dari
pemerintah, aksi mogok mengajar terus mereka lakukan. “Juga bagi
teman-teman yang non-K2, paling tidak diberi perhatian insentif. Itu
sebagai ikatan dan semangat mereka agar mengajar lebih baik,”
imbuhnya.

Misirin mengaku, sebenarnya aksi mogok mengajar dilakukan dengan rasa
berat hati. Pasalnya, GTT merasa telah menerlantarkan anak-anak
didik. “Kami bertahan sampai saat ini demi kecerdasan putra-putri
bangsa. Kami merasa berdosa. Tetapi di sisi lain, kami juga butuh
hidup untuk masa depan keluarga,” tandasnya.

(tik/JPC)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.