oleh

Rupiah Kembali Terkapar ke Level Rp 14.915 per USD

PALU EKSPRES, JAKARTA– Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat
(USD) kembali melemah di perdagangan hari ini, Rabu (19/9/2018). Pagi
ini, Rupiah dibuka di level Rp 14.915 per USD atau melemah dibanding
penutupan perdagangan kemarin di Rp 14.855 per USD.

Mengutip data Bloomberg, usah pembukaan Rupiah menguat tipis ke level Rp
24.902 per USD.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan
perlu bauran kebijakan dalam upaya mengatasi depresiasi rupiah.
Kebijakan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga pun tidak akan cukup
manjur untuk mengatasi pelemahan nilai tukar.

“Jadi kalau dilihat dari efektifnya kalau seperti ini, perang dagang
cara menghadapinya cadangan devisa dulu kemudian tingkat bunga digunakan
untuk menaikkan ekspektasi bahwa BI ada di pasar. Dua-duanya harus
dipakai,” kata dia saat ditemui di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan,
Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan depresiasi rupiah yang
terjadi saat ini. Salah satunya adalah ancaman perang dagang yang
mengganggu ekspektasi pasar.

“Kalau tingkat bunga sendiri itu tidak efektif karena gangguannya itu
sesuatu yang lain, sesuatu tidak berhubungan dengan tingkat bunga. Kalau
di Amerika naik (suku bunga), dilawan dengan tingkat bunga, itu lawannya
persis ya. Ini gangguan ekspektasi yang terjadi akibat Presiden Trump
akan melakukan perang dagang yang baru,” jelas dia.

“Ini harus ditunjukkan dengan rupiah kita masih bisa bertahan. Ada
kebijakan lain yang mendukung. Itu membuat. ‘Nanti dulu. Kita (investor)
mau keluar dari Indonesia waktu kembali jangan rupiah menguat. Kalau
begitu jangan semuanya ditarik’. Jadi mencoba mengatur ekspektasi supaya
investor luar negeri tetap fokus bahwa Indonesia is the best,” imbuhnya.

Karena itu, Bank Indonesia (BI) perlu mengombinasikan strategi menaikkan
suku bunga dengan berbagai kebijakan, seperti pengelolaan cadangan
devisa dan intervensi pasar. Kombinasi kebijakan ini diharapkan dapat
meyakinkan pelaku pasar bahwa perekonomian Indonesia masih kondusif.

“Memang ada negara lain yang lebih baik, tapi yang jelek juga lebih
banyak. Kalau dijejerkan wah kita masih lumayan. Jadi kalau kembali ke
pola rasional melihat portofolio, return-nya segala wah Indonesia kita
masukan lagi,” tandasnya.

(idr/MDC)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed