Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Merawat Tenun Kebangsaan dengan Bijak di Media Sosial

Workhsop Literasi Media

0 51

PALU EKSPRES, PALU – Tak bisa dimungkiri, di samping kelebihannya, media sosial (medsos) juga menjadi ancaman nyata. Ancamannya tidak hanya menyasar wilayah privat, komunitas atau kelompok. Dalam spektrum yang lebih luas, media sosial bahkan bisa menghadirkan horor bagi negara. Jika tidak dikelola dengan baik, maka bangsa ini tidak akan mendapatkan manfaat sedikitpun dari sana. Justru akan menuai tragedi yang akan mengancam eksistensi negara. Menyadari sisi lain kehadiran teknologi informasi ini, Kementerian Informasi dan Komunikasi RI bekerjasama dengan Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI)Pusat, menggelar workshop literasi media dengan menghadirkan sejumlah pembicara yang cukup mumpuni di bidangnya, Anas Saidi dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Siti Meiningsih dari Kominfo RI serta KS Arsana dari PHDI Pusat.

Karena itu dalam kegiatan kali ini, Kominfo mengambil tema yang terlihat sangat relevan dengan kondisi kekinian. Dimana sebagian masyarakat Indonesia sangat familiar dengan gawai di tangannya. Pada setiap gawai tertanam 2 atau 3 akun media sosial di dalamnya. Merawat Kebhinekaan dengan Bijak Bermedia Sosial, adalah tema yang sengaja dipilih untuk mengingatkan, betapa kehadiran media sosial perlu dikelola dengan bijak dan hati-hati. Dengan demikian masyarakat bisa mengambil nilai tambah dari kehadiran teknologi informasi. Sehingga tidak menjadi korban dari dampak negatif yang ditimbulkannya. Workhsop berlangsung di Palu, sabtu 8 September 2018, dihadiri 100-an lebih mahasiswa dan umat Hindu di Sulawesi Tengah serta perwakilan dari pemerintah dan pers.
Mengawali workshop yang berlangsung sehari itu Anas Saidi dari BPIP memperlihatkan cuplikan video pidato Presiden pertama RI Soekarno yang sangat monumental di sidang umum Perserikatan Bangsa Bangsa tentang ideologi negara Pancasila. Saidi mengaku perlu merefresh kembali ingatan generasi muda terhadap Pancasila dengan peristiwa bersejarah itu. Pasalnya, mayoritas generasi muda Indonesia yang lahir pascareformasi atau generasi milenial adalah generasi yang absen pada Pancasila. Karenanya, mereka-mereka perlu mendapat asupan yang cukup mengenai ideologi negara. Dengan demikian kata dia, mereka tidak mudah tercerabut dari akar ideologinya di tengah banyaknya tawaran ideologi dari luar. Kelompok kelompok itu menurut dia berupaya mendelegitimasi nilai-nilai Pancasila dan menggantinya dengan ideologi lain. Merebaknya faham ideologi lain, sebut Saidi salah satunya disebabkan oleh generasi muda yang tidak paham terhadap Pancasila. Padahal substansi demokrasi adalah perlindungan abslout kepada mimoritas. Ia melanjutkan fenomena, absennya generasi muda dari Pancasila dapat dilihat dari pemahaman terhadap ideologi negara yang kurang. Serta menguatnya politik berbasis identitas tertentu. Kemudian inklusi sosial. Ini ditandai dengan meruyaknya perdebatan yang tidak produktif di linimasa media sosial. ”Mayoritas perdebatan itu tidak menyentuh hal-hal substantif,” ujarnya mengingatkan. Lalu terakhir adalah kelembagaan Pancasila. Generasi milenial yang tumbuh kembangnya seiring dengan perkembangan teknologi informasi praktis kehilangan figur panutan. Padahal kelembagaan Pancasila salah satunya bisa dilihat dari sejauhmana nilai-nilai Pancasila terinternalisasi dalam diri para elit melalui tindakan dan tutur katanya. Nah untuk yang satu ini, praktis susah ditemukan. Malah banyak elit entah itu di legislatif maupun eksekutif yang tersangkut kasus korupsi. Ketika generasi muda tidak mendapatkan figur ideal di kehidupan nyata, mereka mengalihkam perhatiannya ke media sosial. Di sana, di lini media sosial, narasi yang ditawarkan malah narasi yang tidak substansif. Bahkan berisi ujaran kebencian, informasi palsu atau fake news. Malah yang paling mengerikan sebutnya, adalah tawaran ideologi di luar Pancasila. Karena itu BPIP sangat merespons workshop yang disponsori Kominfo RI dan PHDI sebagai ajang untuk menjembatani gap yang makin lebar tentang ideologi akibat kehadiran sosial media yang nyaris tanpa filter itu.

Fenomena kehadiran teknologi media dengan segala variannya, sebut Siti Meiningsih dari Kominfo RI, yang menjadi pembicara berikutnya, sejatinya harus mampu memberi nilai tambah bagi bangsa Indonesia. Baik dalam konteks pribadi maupun sebagai bangsa. Indonesia sebut dia, sebagai pengguna internat terbesar keempat di dunia memang menjadi pasar empuk untuk menawarkan berbagai produk. Entah itu produk komersial maupun produk ideologi yang belum tentu sejalan dengan nilai dan falsafah negara. Di titik ini sebut perempuan berkerudung ini, generasi muda harus mampu menjadi pemain inti untuk mengambil keuntungan lebih, dari kehadiran teknologi ini.
Ia mencatat, pengguna internet di Indonesia mencapai 143, 26 juta jiwa atau 54, 68 persen dari 262 juta jiwa lebih penduduk Indonesia saat ini. Dari jumlah itu, rata-rata aktif di media sosial. Dan sebagian besar dari penguna media sosial itu adalah generasi muda. Sebenarnya sebut Meiningsih yang pernah mengambil studi tentang teknologi informasi di Jepang ini, kecenderungan masyarakat khususnya generasi muda memanfaatkan teknologi informasi sangat beralasan. Teknologi digital menawarkan berbagai kemudahan dan biaya murah dibandingkan dengan cara konvensional. Transformasi digital sebutnya, melahirkan layanan dari manual based menjadi elektronic based. Misalnya, budaya silaturahmi (kopi darat) menjadi pertemuan di sosial media. Atau, kebiasaan belanja di pasar konvensional berubah menjadi belanja online. ”Ini adalah dampak teknologi yang tidak bisa diabaikan. Harus diterima dan dihadapi sebagai bagian dari hidup sehari-hari,” ungkapnya di depan ratusan peserta workshop. Realitas ini harus dihadapi dan dimanfaatkan sehingga bisa memberi nilai tambah baik dari sisi pribadi yang bersangkutan maupun sebagai bangsa. Di fase inilah generasi muda ditantang, bagaimana kehadiran media sosial bisa bermanfaat. Bukan sebaliknya. Ia menyebut ada femomena yang sebenarnya tidak cukup bagus di kalangan penikmat informasi digital ini. Kenyataan bahwa 4 dari 10 pengguna internat sangat aktif di media sosial. Kemudian 60 persen di antara pengguna media sosial ini tak punya rekening di bank, Lalu, 85 persen dari yang tak punya rekening tabungan itu, ternyata kesehariannya menenteng gawai. Fenomena ini katanya bisa ditarik kesimpulan bahwa publik Indonesia masih gagap menggunakam media digital. Menurutnya, dari sinilah kemudian Kominfo RI merasa perlu melakukan edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana menggunakan media sosial. Fenomena gagapnya sebagian pengguna media digital setidaknya dapat terlihat dari sejumlah akun yang ditake down oleh Kominfo RI. Akun-akun media sosial yang diblokir di antaranya berisi ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (fake news) . ”Kepentingannya dari sisi kepentingan negara. Jika negatif bagi kepentingan negara pasti akan diblokir,” ujarnya ditemui terpisah. Karenanya, ia meminta kepada generasi muda mewaspadi bahaya laten di dunia maya itu. Caranya, dengan tidak mudah terpengaruh informasi yang seliweran di layar gawai. Self control (pengendalian diri) adalah hal terpenting dalam menghadapi rimba informasi di media sosial. Ketika menemukan informasi sumir maka langkah yang dilakukan adalah mengecek kebenaran informasi yang disampaikan. Ia mengingatkan, pegiat media sosial tidak langsung merepost postingan tanpa merichek kembali informasi yang disampaikan. Hukuman berat menanti mereka yang gemar memposting, ujaran kebencian dan berita palsu. Undang Undang Nomor 11/2008 tentang ITE memberikan ganjaran berat bagi pelaku. ”Karena itu bijaklah bermedia sosial,” pesannya.

Pembicara terakhir, KS Arsana dari PHDI Pusat, melihat toleransi dalam kehidupan bernegara dalam perspektif spiritualitas Hindu. Keberagaman kata dia adalah kodrat mutlak. Tak seorang pun manusia di muka bumi yang mengingkari keberagaman. Suka atau tidak suka. Banyak ciptaan Tuhan yang mengindikasikan betapa keberagaman akan menghasilkan sesuatu yang indah. Pelangi misalnya. Pelangi disebut indah karena warnanya yang beragam. Atau denting piano akan terdengar indah karena rangkaian 7 tangga nada yang beragam. Di antara denting nada-nada itu diantarai dengan senyap. Jika piano terus menerus menghasilkan bunyi tanpa jeda senyap juga tidak akan menghasilkan suara yang indah. Olehnya, dalam spiritualitas Hindu dikenal nyepi atau yoga. Keduanya membutuhkan keheningan. Dari situ seorang Hindu bisa meresapi indahnya kehidupan. Artinya keberagaman itulah yang melahirkan keindahan. Selanjutnya ia mengatakan, kebesaran dan keindahan alam semesta ada pada warna-warni keanekaragamannya. Ini adalah ciri alamiah dan sekaligus ilmiah dari alam semesta.”Keanekaragaman merupakan hukum alam semesta untuk proses pertumbuhan menuju ke kesempurnaan. Jika seperti itu sambung Arsana apakah kita masih mengingkari keberagaman sebagai sesuatu yang indah,” tanyanya disamput aplaus peserta workshop. Karena itu semangat keberagaman inilah yang harus dibawa generasi muda Hindu dalam menjalankan misi bernegara. Pertanyaan kemudian lanjut akademisi Universitas Gajah Mada ini, adalah bagaimana generasi muda Hindu merespons hingar bingar dialektika di media sosial. Sikap terhadap bermedia sosial sangat ditentukan oleh persepsi. Karena itu sikap harus mencerminkan 4 hal yang menjadi pemandu perilaku manusia. Yaitu, pikiran yang menjadi sikap, kemudian sikap menjadi perilaku dan perilaku menjadi kebiasaan sehari-hari. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana sikap seseorang terhadap dirinya sendiri. Bagi seorang Hindu katanya, keharmonisan itu ada dua arah. Vertikal maupun horisontal. ”Dan keempat tujuan itu saling terkait dengan Dharma sebagai fondasi dan Moksha sebagai puncak akhir,” ulasnya rinci. Diakhir paparannya KS Arsana, mengingatkan generasi muda Hindu tak menggunakan kekerasan. Entah itu kekerasan verbal apa lagi kekerasan fisik. Hindu tak mengenal kekerasan dalam setiap inci ajarannya. Karena itu bijaklah bermedia sosial. Jangan menggunakan kekerasan sekalipun itu dalam bentuk narasi. Karena hanya dengan sikap itulah kita bisa merawat tenun kebangsaan. Salah satunya adalah bijak di media sosial,” tutupnya saat ditemui terpisah.

(yardin hasan/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.