Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

BKSDA dan Ditpolair Lepas Penyu Sisik ke Teluk Palu

0 333

PALU EKSPRES, PALU – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng bersama Ditpolair Polda Sulteng melepasliarkan dua ekor penyu sisik (Eretmochelys Imbricata), ke perairan teluk Palu di sekitar Markas Komando Ditpolair Polda Sulteng di Labuan, Rabu 12 September 2018.

Kedua ekor penyu sisik yang dilepas ke alam tersebut, masing-masing penyu jantan berukuran 47 x 45 cm dan penyu betina berukuran 58 x 54 cm.

Wakil Direktur Polair Polda Sulteng, AKBP Yudi Gunawan menjelaskan, dua ekor hewan dilindungi tersebut merupakan barang bukti hasil sitaan pihak Polair, dari salah satu kapal penumpang jurusan Bangkurung-Luwuk, setelah melakukan tugas patroli di wilayah perairan Kabupaten Banggai Laut pada 7 September 2018 lalu.

“Dua ekor penyu tersebut diamankan saat anggota Polair Polda Sulteng melakukan patroli laut, ditemukan di sebuah kapal penumpang. Hewan tersebut dititipkan kepada ABK untuk dibawa ke Banggai. Informasi sementara dua ekor penyu itu akan dibawa lagi dan akan dipakai untuk kegiatan hajatan,” jelas Yudi kepada wartawan.

Turut diamankan salah seorang ABK kapal berinisial RK, yang dititipkan hewan tersebut untuk dibawa menuju Banggai. Yudi menyebutkan, penyu sisik termasuk hewan yang dilindungi oleh UU nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

“Pelakunya ABK inisial RK sudah diamankan, dan sementara kita lakukan pengembangan,” imbuhnya.

Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Sulteng, Bambang Widiatmoko menjelaskan, habitat penyu sisik secara umum berada di seluruh Indonesia termasuk di Sulteng. Sebagaimana penyu lainnya, populasi penyu sisik termasuk dalam golongan sangat kecil kemungkinan hidup, yakni dari telur-telur yang menetas hanya sekitar 2 persen saja yang berpotensi selamat.

“Kalau di Sulteng hampir di semua daerah ada habitat penyu sisik,” kata Bambang.

Ia mengaku BKSDA selalu berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait seperti Ditpolair atau Dinas Kelautan dan Perikanan, untuk melakukan sosialisasi di daerah-daerah dalam melindungi populasi hewan-hewan yang dilindungi, termasuk populasi penyu sisik.

“Biasanya penyu sisik ini diburu untuk dibuat aksesoris seperti gelang,” tandas Bambang. (abr/palu ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: