Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

HIJRAH ITU MOVE ON

0 83

oleh : Muhd Nur Sangadji

PALING  kurang ada dua peristiwa berentetan yang menjadi tonggak kelahiran tahun Hijriyah. Kedua peristiwa itu bermakna sama yaitu bergerak atau “move on”. Peristiwa yang pertama, digerakan atau diperjalankan. Dan, perisiwa ke dua, menggerakan atau menjalankan. Kedua duanya, diskenariokan oleh penggerak langit dan bumi. Sang pencipta.

Kala itu, di sekitar lebih kurang 15 abad silam, nabi mengalami puncak kesedihan yang teramat sangat. Perginya orang-orang penting, inspirotor, penyemangat dan pelindung nabi dalam misinya. Istri terkasih, Sitti Khadidjah dan paman beliau, Abu Thalib. Era kesedihan ini dikenal dengan “amul huzni” atau tahun duka cita.

Hilangnya Orang Orang dekat nabi ini, berbanding lurus dengan tensi tekanan dan serangan kaum kafir quraisy di Mekkah. Allah, kemudian memperjalankan beliau dalam lintasan horizontal dan fertikal, isra wal Miraj. Ini perjalanan dengan misi besar, tapi salah satu tujuannya adalah pengiburan pada nabi dalam nestapa yang kian memuncak.

Saat kembali, cerita melintasi universe ini malah menjadi alasan baru untuk meragukan kenabian Muhamad. Maka, propaganda negatif, tekanan dan ancaman makin berlipat ganda. Hingga datang perintah langit yang ke dua, bergerak alias hijrah atau “move on”.

Sesungguhnya dua jenis perjalanan ini Bergerak dari mesjid ke masjid ( al-Harâm di Mekkah ke al-Aqshâ di Palestine, baru kemudian ke langit, dan al-Harâm _ ke Qubâ di Madinah) sebagai simbolisasi perpindahan tempat pijak (maqâm). Masjid, dengan demikian harus menjadi spirit “move on” bagi lahirnya kebaikan-kabaikan dunia akhirat.

Bumi tempat kita berpijak bahkan gunung pun sebenarnya, bergerak kepada keseimbangan secara dinamis. Quran bersebut, “janganlah kamu mengira gunung itu diam di tempat. Sesungguhnya, dia bergerak seperti bergeraknya awan”. Jadi, bergerak itu adalah keniscayaan. Bergerak juga bermakna berubah. Maka benarlah ungkapan perubahan adalah keabadian. Tidak ada yang abadi kecuali perubahan.

Bumi ini terus ada Karena perubahan. Tanpa itu, bumi akan kewalahan mendukung (carrying capacity) dan atau menampung (baca :asimilasi) beban kehidupan yang diamanahkan kepadanya. Demikianlah sistem alam (ecosystem) itu bekerja.

Begitu juga yang terjadi dalam sistem internal mahluk hidup terutama manusia. Ada perubahan sikap (baca : main set) yang harus bergerak atau berubah (change) dalam menghadapi kehidupan. Disinilah relefansinya, mengapa kata-kata “changing main set” menjadi penting disebut.

Memang, Hijrah itu adalah perpindahan fisik nabi dari negeri Mekah ke Madina. Namun, perjalanan fisik ini melibatkan pengetahuan, mental dan strategi yang beresiko korbanan jiwa. Jarak tempuh dengan cekaman iklim siang terik dan malam yang dingin adalah taruhannya.

Dengan begitu, hijrah itu melibatkan pemikiran atau cara berfikir, cara bertindak, mempolakan kebiasaan, membentuk kharater dan akhirnya mendatangkan takdir. Ini gambaran bahwa takdir itu lazimnya, datang sesudah semua iktiar tertunaikan.

Takdir dari permulaan kelahiran kita, dengan tidak membawa apa-apa. Hingga kembali, juga dengan tidak membawa apa apa. Demikian juga bumi yang bermula dari tidak ada, dan nanti berakhir dengan kefanaan. Diantara tidak ada, ada dan kemudian menjadi tidak ada, terdapat proses perubahan, bergerak, tumbuh dan berakhir punah. Tapi, kalau proses ini tidak terjadi (baca : statis) maka boleh jadi kepunahan akan datang lebih cepat. Dan, yang bertahan adalah yang respon kepada perubahan (teori evolusi) dengan cara, bergerak.

Kalau begitu, hijrah adalah pergerakan tanpa henti hingga batas (irreversible). Berhenti berarti berakhir. Selamat merayakan Tahun Baru 1440 Hijriyah dengan tetap “move on”. (***)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.