Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Longki: Tahmidi Lasahido Sosok yang Lembut

0 134

PALU EKSPRES, PALU– GUBERNUR Sulawesi Tengah Longki Djanggola tidak mampu menahan kesedihannya dan terlihat berlinang air mata, saat melepas jenazah Almarhum Tahmidi Lasahido di rumah duka, Jalan Rajawali Nomor 28 Palu, Senin (3/9/2018) siang. “Tahmidi Lasahido merupakan sosok yang sangat lembut, tidak pernah berbicara keras kepada siapa pun sekalipun dia disakiti,” kata Gubernur Longki. Sebagai keluarga dari almarhum, gubernur menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh rekan sejawat yang telah hadir ke rumah duka dan mengantar ke tempat peristirahatan terakhir.
“Saya sangat merasakan kesedihan yang mendalam, baik untuk diri saya sendiri dan juga buat teman-teman almarhum dan juga segenap kader Partai Nasdem,” ungkap gubernur. Dalam riwayat pengabdian yang dibacakan Arifin Sanusi, almarhum Tahmidi Lasahido merupakan sosok organisatoris dan salah seorang tokoh yang aktif di dalam pemulihan konflik Poso.
Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Tengah, Tahmidy Lasahido, menghembuskan nafas terakhir di RSCM Jakarta, Ahad (2/9/2018) sekira pukul 15:09 WIB. Kalangan akademisi, politisi, birokrat, jurnalis, juga masyarakat Sulteng berduka, untuk putra mantan Gubernur Sulteng, Ghalib Lasahido itu. Midy, sapaan akrabnya, dikenal baik oleh masyarakat di Sulteng. Sosok sederhana ini pernah menggeluti dunia akademisi dan pensiun saat akan mencalonkan sebagai Wakil Wali Kota Palu, beberapa waktu lalu.
Dia juga akrab dengan kalangan wartawan. Salah satu bentuk dedikasinya terhadap dunia jurnalis adalah menghibahkan lahan untuk dibangunkan Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI), tepat di samping studio Radio Nebula, Jalan Rajawali, Kota Palu.
Guru Besar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Abdul Wahab Abd. Muhaimin, Lc., M.A, mengatakan, almarhum adalah orang baik. “Tahmidy anak yang baik, murid saya di Pondok Pesantren Putra Alkhairaat Palu. Putra mantan Gubernur Sulteng Ghalib Lasahido itu, tidak seperti anak pejabat pada umumnya. Setiap diantar ke pondok pesantren dengan mobil, ia memilih turun lebih dahulu, sebelum tiba di gerbang pesantren, agar tidak diketahui sebagai anak gubernur,” katanya melalui akun media sosialnya.
Ketua AJI Palu, Muhammad Iqbal mengatakan AJI Palu dan organisasi wartawan lain seperti ikatan jurnalis televisi Indonesia (IJTI) Sulteng, sejak lama telah menjadikan salah satu bangunan di kediamannya sebagai sekretariat. Bahkan kata Iqbal, Kak Tahmidy tidak pernah meminta pembayaran sepeser pun dan tidak segan-segan menunjukan ketidaksenangan jika ditawari hal itu. “Saya dan beberapa teman teman di AJI Kota Palu sejak awal sudah paham benar, bahwa kak Midy akan menolak semua ini. Ia bahkan tidak segan-segan menunjukkan sikap tidak nyamannya,” kata Pemimpin redaksi Radar Televisi itu yang dikutip dari akun media sosialnya.

(antara/mdi/humas)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.