Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Jarak Menuju Lokasi Pelontaran Jadi Tantangan

Tahap Terakhir Rangkaian Ibadah Haji

0 519

PALU EKSPRES, MAKKAH – Saat ini sebagian Jemaah haji sedang dalam tahap terakhir melaksanakan salah satu rangkaian ibadah haji, yakni pelontaran jumrah. Salah satunya adalah Jemaah haji asal Provinsi Sulteng yang tergabung dalam kloter 8 BPN.

Pembimbing ibadah kloter 8 BPN, H. Lutfi A. Godal menyebutkan, secara umum prosesi pelaksanaan pelemparan jumrah sangat mudah dan memungkinkan untuk dilaksanakan oleh Jemaah. Namun satu hal yang cukup menjadi kendala, adalah jarak antara tenda pemondokan Jemaah menuju lokasi pelontaran di Mina, yang dirasa cukup jauh yakni menempuh sekitar 12 kilometer total untuk pergi dan pulang.

“Jarak antara tenda dan tempat pelontaran itulah, yang menjadi sedikit kendala bagi Jemaah, karena jaraknya kurang lebih 12 kilometer pulang pergi,” kata Lutfi, melalui pesan WhatsApp kepada Palu Ekspres, Kamis 23 Agustus 2018.

Meski begitu, Lutfi bersyukur para petugas PPIH yang membantu Jemaah Indonesia bertindak luar biasa dalam pengawasannya, mengelilingi lokasi pelontaran yang dilalui oleh Jemaah Indonesia, sejak hari pertama pelontaran.

Lutfi menyebutkan, pada proses pelontaran jumrah pada Rabu kemarin, sempat ada seorang Jemaah yang merasa kelelahan dan drop saat berada di terowongan. Tim gerak cepat lalu datang menjemput Jemaah tersebut untuk diberi infus dan dibawa kembali ke tenda.

“Alhamdulillah hari ini Jemaah tersebut sudah pulih, dan Insyaallah akan bersama-sama menuju tempat pelemparan. Kita kembali melontar sekitar pukul 08.00 pagi waktu Arab Saudi, dan prosesnya diperkirakan membutuhkan waktu sekira 2 jam,” lanjut Lutfi.

Ia menambahkan, usai makan siang dan salat duhur Jemaah kloter 8 BPN akan diberangkatkan kembali menuju Arafah untuk istirahat sehari lalu melanjutkan prosesi menyempurnakan ukun haji, yakni melaksanakan tawaf ifadhah, sai, serta tahalul tsani di Masjidil Haram.

TANTANGAN TERBERAT DI MUZDALIFAH
Lutfi juga bercerita, salah satu tantangan terberat yang dilalui oleh Jemaah dan para petugas kloter, adalah saat berada di Muzdalifah untuk melaksanakan mabit pasca wukuf. Ia menuturkan, kondisi Muzdalifah pada saat itu (usai wukuf pada Senin 20 Agustus 2018) sangat padat. Hal ini dikarenakan Jemaah yang berasal dari 7 kloter dan tidak dibatasi antarkloter masuk dalam suatu tempat yang terbatas dalam suatu kerangkeng.

“Inilah yang menjadi ujian terberat, baik bagi Jemaah maupun petugas, karena kami harus mengidentifikasi siapa-siapa 450 orang Jemaah dari kloter 8 BPN dan siapa-siapa yang bukan, dengan kondisi Jemaah yang lelah dari Arafah, kemudian tidak tidur malamnya harus berangkat ke Muzdalifah,” tuturnya.

Ia menambahkan, fasilitas tenda yang diberikan pada saat itu tidak tersedia dan hanya ada karpet dengan jumlah yang sangat terbatas. Jemaah mengalami kelelahan karena harus menunggu giliran lepas tengah malam untuk diangkut menuju Mina.

Tidak hanya itu, pihak Muassasah hanya menyediakan sebanyak 7 buah bus dengan daya tamping maksimal 60 orang plus barang, untuk mengangkut 7 kloter dala satu maktab. Akibatnya, para petugas kloter yang hanya berjumlah 5 orang harus bekerja keras dalam mengawal Jemaah, memastikan bahwa tidak ada Jemaah atau barang yang tertinggal.

“Alhamdulillah semua bisa kami lewati dengan baik, berkat doa keluarga di Indonesia,” tandasnya.

(abr/Palu Ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.