Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Ibrahim Sembelih Keegoan,  Wariskan Pendidikan Toleransi

0 269

Prof Dr H Zainal Abidin MAg  menyampaikan khutbah di Masjid Al-Ikhlas Kabupaten Sigi, Rabu (22/8/2018), dengan judul ‘refleksi semangat Idul Qurban dalam memperkokoh keimanan yang toleran, mewujudkan masyarakat yang harmonis’.

Dalam khutbahnya, ia mengatakan Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail, putra kesayangannya, putra yang begitu lama ditunggu dan dirindukan. Putra satu-satunya yang diharapkan melanjutkan keturunannya justru harus disembelih dengan tangannya sendiri.

Perintah itu wajib dilaksanakan, kecintaan Ibrahim pada putranya tentu tak dapat diragukan, akan tetapi cintanya kepada Allah melebihi segalanya. Perintah itu dilaksanakan walau dengan bersimbah air mata.

Perintah yang maha berat itu, menggetarkan alam malaikat. Para malaikat bertasbih penuh takjub menyaksikan betapa di bumi ini ada dua orang hamba, ayah dan anak, yang mampu mengorbankan segala cinta duniawinya demi meraih cinta Ilahi. Dan, karena kepatuhannya itu, Ibrahim kemudian digelari oleh Allah sebagai Khalilullah,

Ibrahim telah menjadi pelajaran kepada kita, bahwa hanya orang-orang yang tahan ujian dan cobaan yang mampu menghadapi kehidupan dan bisa menjadi orang berguna.  Karena tak ada manusia besar dan berguna lahir dari sebuah keluarga yang santai dan tidak pernah mengalami rintangan dan hambatan dalam menghadapi sesuatu.

Alqur’an melukiskan dalam bentuk dialog antara Ibrahim dengan anaknya, Ismail, yang masih muda belia. Kala Ismail menginjak usia muda, Ibrahim berkata pada anaknya: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, aku akan menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu”.

Sungguh di luar dugaan, Ismail yang masih polos itu menjawab spontan tanpa berpikir panjang: “Wahai ayahku kerjakanlah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah. Engkau akan dapati aku Insya Allah tergolong orang-orang yang sabar”.

Dalam kisah ini tergambar ajaran dialog dan keterbukaan. Walaupun perintah itu dari Allah Ibrahim tidak lalu berlaku semena-mena sekehendak hatinya meski terhadap anaknya sendiri, miliknya sendiri yang dapat diperlakukan semaunya.

Ibrahim justru memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengajukan saran agar diperoleh kata sepakat. Ini adalah contoh teladan yang harus dipraktekkan oleh setiap orang tua yang hidup di zaman ini. Begitu pula setiap anak harus mencontoh kepatuhan, kerelaan dan ketaatan serta kesetiaan Ismail kepada orang tuanya.

Dialog itu juga merupakan simbol antara atasan dan bawahan, pemerintah dan rakyat, penguasa dan masyarakat sehingga tidak terdapat jurang pemisah atau kesenjangan. Atasan tidak merasa paling hebat dan benar yang pada gilirannya bawahan lebih percaya diri dan dapat lebih kreatif dan maju. Begitu juga penguasa dan pemerintah tidak akan menjadikan rakyat sebagai obyek dan sasaran yang harus dikuasai dan diintimadasi. Tetapi rakyat diberi kebebasan, dalam mengajukan pendapat dan menyalurkan aspirasi serta mendapatkan hak-haknya, saling bicara dan saling mendengar.

Budaya dialog,  juga dalam kehidupan keagamaan sehingga terjalin kerukunan antar umat beragama dan interen umat beragama. Budaya dialog perlu ditumbuhsuburkan, sehingga tidak melahirkan kesombongan paham, sekte, aliran dan golongan atau merasa paham dan pendapatnya yang paling benar.

Bukankah menurut Islam setiap yang beriman itu bersaudara dan kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal-mengenal, bukan untuk saling menyalahkan, saling memaki saling berperang dan saling membunuh.

Melalui dialog diharapkan praktek saling menuding kekurangan dan menonjolkan superioritas harus dikubur dalam-dalam, kendati perbedaan pendapat tidak dapat dibendung. Namun pertentangan yang membawa keretakan dapat dihindari. Bahkan berbagai perselisihan dan perbedaan tidak harus diselesaikan di sini, dan kini di dunia tetapi ada yang akan diselesaikan di hadapan Allah di hari kemudian. ***

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.