Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Boros di Bulan Merdeka

0 263

Oleh : Muhd Nur Sangadji*

BEBERAPA hari di awal bulan Agustus ini, saya berkali- kali harus mematikan lampu jalan pada pagi hari. Ada kurang lebih 10 lampu jalan yang tergantung di tiang listrik yang saya lewati besama isteri. Lampu-lampu itu terbiakan menyala hingga pagi terang. Saya baru menyadari betapa besarnya pemborosan yang kita ciptakan. Karena kesadaran ini muncul lagi di bulan kemerdekaan ini, maka tulisan ini diberi judul “Boros di Bulan Merdeka”.
Bayangkan, berapa jumlah tiang listrik yang menggantungkan lampu jalan yang masih tetap menyala di pagi hari. Bahkan, sering hingga malam harinya kembali. Kalau satu lampu berukuran sekian watt, maka dengan mudah kita tahu berapa total watt yang menyala sia-sia. Sia-sia karena hari telah siang dan mata hari sudah siap terbit. Terkadang,, lapu ini terbiarkan hingga mata hari terbenam. Total watt ini, lalu bisa dikonversikan ke bahan bakar yang digunakan untuk menghidupkan mesin diesel. Berapa rupiah yang kita bakar percuma karena kecerobohan kita (warga dan petugas).
Pada tahun 2002, saya menggas komuniksi publik melalui RRI Cabang Palu dengan topik acara “Public Voice and Public Compline”. Di antara masalah perkotaan yang muncul di kota Palu kala itu adalah masih menyalanya lampu jalan di siang hari. Bila sekarang, keadaannya tetap sama, berarti kita belum berubah. Meskipun, sudah 16 tahun sejak RRI Palu, menyalurkan koreksi publik tersebut. Padahal, masalahnya sederhana saja. Cukup dengan satu saklar stop kontak, lampu mati serempak dapat dilakukan dengan mudah. Tapi, faktanya tidak.
Memang patut diakui bahwa perilaku boros ini adalah sikap kolektif warga negara kita hingga kini. Mulai skala individu kelurga hingga aparatur pemerintah. Coba periksa lampu-lampu kantor dan rumah tangga yang masih tetap menyala di siang hari. Tentu saja termasuk AC dan kipas angin yang membutuhkan energi besar. Pada saat bersamaan, kantor dan rumah tangga ini sering mengeluarkan biaya energy yang besar. Lantas, mengapa kesadaran berhemat itu tidak muncul..?
Jawaban dari pertanyaan ini mungkin ada pada kebiasaan. Kita, mungkin kurang mendapat pelajaran yang cukup, tentang kebiasaan menghemat. Kekurangan itu mulai dari sekolah “in fomal” di rumah tangga (home schooling) dengan orang tua sebagai guru. Maupun, di sekolah formal dan non formal dengan guru-guru atau pelatih-pelatih profesionalnya. Mengapa begitu..? Ini soal “mind set” yang pembentukannya butuh proses pendidikan berulang. Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke 73. Wallahu A’alam Bishawab.

(Guru Kecil di Untad)
Email; mudrezas@yahoo.com/0811454282

Berita serupa

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.