Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Tiga Juta Orang Menuju Arafah

0 299

PALU EKSPRES – Masa puncak ibadah haji akhirnya tiba. Hari ini lebih dari 3 juta jamaah haji sedunia akan menuju padang Arafah secara bertahap. Mereka akan menempati tenda-tenda khusus untuk melaksanakan wukuf pada Senin besok (20/8/2018).

Khusus calon jamaah haji Indonesia yang berjumlah sekitar 221 ribu orang, mobilisasi ke Arafah dibagi dalam tiga tahap. Gelombang pertama diberangkatkan hari ini setelah subuh hingga duhur. Lalu, gelombang kedua dimulai duhur hingga sekitar pukul 16.00. Keberangkatan terakhir pukul 16.00 sampai 18.00. Semuanya Waktu Arab Saudi (WAS) atau ditambah empat jam untuk Waktu Indonesia Barat (WIB).

Keberangkatan para CJH akan dikawal oleh petugas haji Indonesia yang jumlahnya 4.520 orang. Jumlah itu terdiri atas 2.535 petugas yang menyertai kloter, 755 orang petugas nonkloter, dan 1.230 personel pendukung. Semuanya akan bekerja sama dengan petugas haji Arab Saudi. Tahun ini Kerajaan Arab Saudi benar-benar all-out mengawal prosesi haji. Menurut Badan Statistik Arab Saudi, ada ribuan petugas dan puluhan ribu perangkat pendukung yang dikerahkan untuk memperlancar pelaksanaan haji.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berada di Makkah untuk memantau persiapan keberangkatan CJH menuju Arafah. Dia meminta diadakansweeping di hotel-hotel yang ditempati jamaah haji. ’’Jangan sampai ada jamaah yang ketinggalan,’’ ingatnya.

Dia menjelaskan, keberangkatan ke Arafah sengaja dibagi menjadi tiga gelombang untuk menghindari penumpukan jamaah. Sebab, di hari yang sama, jamaah haji dari negara-negara lain juga berangkat ke Arafah. Mereka akan menuju maktab-maktab (area pemondokan) yang lokasinya berdekatan dengan pemondokan khusus jamaah haji Indonesia.

Arab Saudi telah menyediakan 70 maktab untuk Indonesia. Setiap maktab bisa dihuni 2.970 sampai 3.000 orang. “Di setiap maktab ada 20 hingga 30 tenda dengan luas bervariasi,’’ jelas Menag. Pemerintah telah menyediakan 21 bus untuk mengangkut CJH ke satu maktab.

Sebelum keberangkatan para CJH, wartawan Jawa Pos Firzan Syahroni memantau kondisi maktab di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di sana, tenda-tenda sudah dilengkapi dengan karpet merah. Ukuran tenda berbeda-beda, tergantung kondisi lahan. Di Arafah, tenda berbahan terpal tidak dilengkapi AC. Hanya ada kipas angin yang bisa mengembuskan uap air alias mist fan. Kamar mandi dan WC juga sudah siap. Namun, mayoritas menggunakan WC jongkok. Hanya sedikit yang memakai WC duduk.

Hal itu kemungkinan menyulitkan jamaah haji yang bertubuh gemuk. Tempat wuduk juga siap pakai. Air kran mengalir deras. Pos kesehatan, musala, dan tempat katering juga telah lengkap. ’’Insya Allah kita sudah siap 100 persen,’’ kata Menag.

Yang menarik, beberapa maktab di Arafah tampak cukup rindang. Sebab, terdapat puluhan pohon mindi dengan ketinggian sekitar 3 meter. Di Mekkah, tanaman itu dikenal dengan sebutan pohon Soekarno. Sebutan itu muncul karena pada 1960 Soekarno berhaji sambil membawa ribuan bibit pohon mindi untuk ditanam di Arafah. ’’Saya tidak mengira pohon-pohon ini sudah sebesar sekarang,’’ kata Menag.

Dari Arafah, jamaah haji akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah. Di sana mereka akan mabit (bermalam sejenak) dan mengumpulkan kerikil untuk lempar jumrah di Mina. Namun, jamaah haji Indonesia tidak perlu repot mencari kerikil. Sebab, kerikil itu kini disediakan oleh masing-masing pengurus maktab. Batu kerikil yang diambil per orang sebanyak 70 butir untuk mereka yang memilih nafar tsanidan 40 butir untuk nafar awal. Kerikil-kerikil itu akan dilempar saat masa lempar jumrah ula, wustha, dan aqobah.

(oni/JPC/JPK)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.