Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Tampilkan Berbagai Pertunjukan Berkelas Internasional

Tahun Perdana Palu Salonde Percussion 

0 438

Perhelatan Palu Salonde Percussion 2018 telah tuntas digelar sejak dibuka pada 10 Agustus 2018 malam hingga ditutup pada 14 Agustus 2018, setiap malamnya diisi dengan pertunjukan-pertunjukan kelas tinggi. Tercatat, para pelaku seni tingkat nasional bahkan internasional mengisi pertunjukan di panggung terbuka yang terletak di tengah hutan kota tersebut. Wali Kota Palu, Hidayat, langsung berancang-ancang mendorong gelaran yang lebih besar lagi tahun depan.

Laporan: Imam El Abrar, Mantikulore

Sekitar seratus orang pelajar putra dan putri dari berbagai sekolah di Kota Palu, mengenakan seragam pakaian khas Kaili dengan corak warna dominan hijau dan kuning, bersiap-siap memainkan alat-alat musik tradisional, seperti gimba, lalove, kakula, dan rebana. Beberapa di antaranya bertugas mengisi suara pada nyanyian berbahasa Kaili.

Sejurus kemudian, suara pukulan gimba yang dimainkan serentak bergema di tengah hutan kota Kaombona, diikuti hentakan rebana, siulan lalove dan melodi kakula. Beberapa kali para pemain menampilkan koreografi menarik di sela-sela tabuhan gimba. Penampilan kolosal yang epik tersebut menjadi pembuka pada acara penutupan Palu Salonde Perkusi 2018, Selasa 14 Agustus 2018 malam.

Tahun ini merupakan kali pertama digelarnya Palu Salonde Percussion, yakni sebuah festival yang dikonsep khusus memberikan penampilan musik, khususnya musik perkusi, serta musik-musik kolaborasi, dengan gabungan nuansa tradisional dan modern. Konsep panggung terbuka dengan pemilihan lokasi di hutan kota Kaombona turut menegaskan tema yang diusung pada perhelatan perdana tersebut, yakni “Where the nature and culture are living in harmony.”

Meski baru pertama kali digelar, Palu Salonde Percussion 2018 langsung menampilkan standar tinggi di setiap penampilannya. Mulai dari malam pembuka pada 10 Agustus 2018, langsung menampilkan pertunjukan orkestra dari kelompok Orquesta de Camara de Siero (OCAS) asal Spanyol.

OCAS membawakan delapan lagu di antaranya Suspirios de Spana dan Ale Binte de Lavonte. Selain itu, kelompok orkestra yang dikenal dengan project Vinculos for Indonesia tersebut turut membawakan gubahan dua buah lagu berbahasa Kaili, yakni Posisani dan Sampesuvu Roa. OCAS juga menampilkan kolaborasi bersama kelompok seni Pedati asal Palu. Yang spesial, di penghujung penampilannya OCAS juga berkolaborasi bersama Wali Kota Palu, Hidayat, dan Wakil Wali Kota Palu, Sigit Purnomo, membawakan lagu Sampesuvu Roa.

Pada malam kedua, menjadi giliran Balawan & batuan Ethnic Fusion Percussion yang tampil pada pertunjukan bertajuk Bali Night Palu Salonde Percussion. Kelompok yang digawangi I Wayan Balawan, seorang gitaris Jazz terkemuka asal Bali tersebut, sudah cukup terkenal di dunia internasional.

Pada malam selanjutnya ikut tampil Baureksa Kailijava, yakni komposisi internasional yang menggabungkan gamelan Jawa, kakula Kaili, dan lalove dalam sebuah harmoni, di bawah arahan komposer internasional Dr. Sutrisno Hartana asal Vancouver Kanada. Melalui penampilan kolaborasi ini, musik etnik Kaili mulai menunjukkan kelasnya.

Sebagai penutup rangkaian penampilan berkelas tersebut, pada malam terakhir usai perkusi kolosal oleh ratusan pelajar Kota Palu, ditampilkan pertunjukan solo dari salah seorang drummer terbaik Indonesia, Gilang Ramadhan di panggung hutan kota Kaombona. Pertunjukan solo selama kurang lebih 20 menit tersebut mengundak decak kagum ratusan pengunjung yang hadir, dengan terus bertepuk tangan setiap kali Gilang mempertunjukkan skill-nya menabuh set drum.

Selain tampil solo, Gilang dengan beberapa seniman lainnya yang berasal dari Madura, Yogyakarta, serta Kota Palu, menampilkan kolaborasi salah satunya dengan membawakan lagu berbahasa Jawa berjudul “Ilir-ilir”. Ditemui usai seremoni penutupan, Wali Kota Palu, Hidayat menegaskan pihaknya akan berupaya mendorong agar perhelatan Palu Salonde Percussion ke depan akan lebih besar dari tahun ini.

Palu Salonde Percussion oleh Pemkot Palu memang direncakan menjadi event tahunan berstandar nasional di Kota Palu, bersama Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN), Festival Mandura dan Festival Raodha. Untuk mewujudkannya, Wali Kota meminta dukungan dari seluruh elemen masyarakat Kota Palu.

“Saya kira ada tiga kolaborasi Insyaallah yakni dari Pemkot Palu, BNI dan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI, sudah berkomitmen untuk Salonde akan menjadi branding BNI, dan kami akan betul-betul menyusun berbagai program ke depan mudah-mudahan lebih besar lagi, yang lebih lagi daripada tahun ini,” kata Wali Kota.

Menurutnya, gelaran Palu Salonde Perkusi tahun ini merupakan awal yang sangat luar biasa, dan memberikan kesan mendalam kepada pemerintah dan masyarakat Kota Palu. Hal ini karena festival tersebut diisi oleh para pelaku seni dari berbagai daerah di Indonesia serta mancanegara.

Meski digelar di tengah hutan kota, antusiasme masyarakat Kota Palu untuk menyaksikan berbagai pertunjukan di Palu Salonde Percussion 2018 tidak pernah surut. Ratusan orang terus berdatangan di tiap malam pertunjukan. Hidayat menegaskan, pelaksanaan Palu Salonde Percussion akan terus digelar di hutan kota Kaombona pada tahun-tahun mendatang.

“Antusiasme dari seluruh masyarakat Kota Palu menunjukkan bahwa ini adalah awal yang baik. Insyaallah Palu Salonde Perkusi ini tetap kita laksanakan di tempat ini (hutan kota Kaombona-red). Ttempat ini merupakan hutan kota yang kita bangun mulai tahun lalu, dan Insyaallah tahun depan dan seterusnya,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.