Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Realisasi Potensi Zakat di Sulteng Masih Jauh dari Harapan

0 318

PALU EKSPRES, PALU – Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sulteng, Prof. Dr. Hj. Dahlia Syuaib mengungkapkan, realisasi potensi zakat di Provinsi Sulteng yang dikelola Baznas masih jauh dari kata ideal. Menurutnya, potensi zakat di Sulteng bisa mencapai minimal Rp42 Milyar, namun yang terealisasi saat ini masih sekitar Rp2 Milyar.

“Realisasinya saat ini hanya sekitar Rp2 Milyar, atau baru sekitar 5 persen. Padahal potensi kita luar biasa, bisa mencapai sekitar Rp42 milyar,” kata Dahlia, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat 8 Juni 2018.

Ia menyebutkan, hal ini disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk menyalurkan zakatnya ke lembaga-lembaga amil zakat, terutama Baznas, dan lebih memilih menyalurkan zakat secara mandiri. Padahal kata Dahlia, jika potensi zakat tersebut dapat dimaksimalkan, maka bisa mewujudkan program-program Baznas terkait pemberdayaan masyarakat, utamanya bagi masyarakat yang masuk dalam kategori penerima zakat (mustahik).

“Kesadaran menyalurkan zakat ke lembaga-lembaga masih kurang. Padahal bagaimana umat Islam yang tertinggal bisa diberdayakan di berbagai tempat, kalau misalnya ini terkumpul dengan maksimal. Beberapa poin yang dipenuhi Baznas, misalnya bantuan gizi buruk, bantuan modal usaha atau bantuan pemberdayaan masyarakat seperti nelayan, pembangunan dan pengentasan kemiskinan Insayallah bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Baznas Sulteng lanjut Dahlia, memiliki lima program unggulan terkait pemberdayaan masyarakat. Program-program tersebut masing-masing Sulteng Sehat, Sulteng Peduli, Sulteng Takwa, Sulteng Cerdas dan Sulteng Sejahtera.

Dahlia menekankan, yang bisa disentuh untuk dapat memaksimalkan potensi zakat tersebut, saat ini diupayakan dari kalangan para pengusaha, serta zakat di tiap Kabupaten dan Kota serta institusi seperti universitas.

“Kalau mereka bisa maksimalkan penyaluran zakatnya ke lembaga, bahkan bisa lebih dari Rp42 Milyar. Itu bisa disalurkan ke setiap delapan golongan mustahik, dan di sini mereka masih banyak,” imbuhnya.

Ia menambahkan, saat ini Baznas Sulteng terus berupaya menjalankan program-program yang diharapkan dapat menarik zakat sebesar-besarnya dari masyarakat. Di antaranya ialah membuka layanan penerimaan zakat bersama Pemprov Sulteng, serta menempatkan gerai-gerai zakat di pusat perbelanjaan dan bandara, selain permintaan zakat langsung ke tengah-tengah masyarakat secara keseluruhan.

“Untuk program bersama Pemprov Alhamdulillah bapak Gubernur memberikan respon yang baik. Sedangkan untuk layanan zakat di Pemprov kami diberi waktu tanggal 25 Mei 2018 lalu, karena menyesuaikan dengan jadwal kegiatan-kegiatan Ramadan Pemprov, nantinya ini perlu disinkronkan lagi waktunya,” tuturnya.

Untuk program layanan zakat di kantor-kantor pemerintahan, kata Dahlia, sudah dilakukan oleh Baznas pusat sejak tahun 2016, dengan membuka pelayanan zakat di istana, dengan melibatkan semua menteri, pejabat eselon I serta pimpinan BUMN. Dalam program tersebut, mampu menyerap zakat hingga Milyaran rupiah.

“Kita di tahun 2018 sudah ada instruksi sebenarnya di semua daerah untuk melakukan hal itu,” imbuhnya lagi.

Ia menambahkan, pihaknya saat ini juga terus berupaya menyentuh para pengusaha yang berada di Sulteng, untuk dapat menyalurkan zakat dari tiap perusahaan. Namun, hal ini diakuinya masih belum mendapat sambutan yang positif.

“Kami sudah beberapa kali menyurati perhimpunan-perhimpunan pengusaha untuk dipertemukan dengan para pengusaha, tapi belum ada sambutan,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini masyarakat tidak perlu lagi merasa ragu terhadap pengelolaan zakat melalui lembaga-lembaga seperti Baznas. Hal ini karena pengelolaan zakat di Baznas juga melalui proses pendampingan serta audit syariah yang menjamin pengelolaan zakat bisa tepat sasaran.

Selain itu, dana zakat yang masuk serta yang disalurkan oleh Baznas di tiap daerah, lanjutnya, juga dikontrol langsung oleh Baznas pusat melalui Sistem Informasi Manajemen Baznas (SIMBA).

“Jadi semua dana yang masuk langsung terlapor ke pusat, begitu juga pengeluaran langsung terlapor juga. Hanya memang masih rendah kepercayaan masyarakat, pikirannya masih yang lama, mereka ragu terhadap kita, atau masih berpikir untuk menyalurkan sendiri-sendiri zakatnya,” pungkasnya.

(abr/Palu Ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.