Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Ramadan dan Kecerdasan Spiritual

0 28

Oleh: Amin Parakkasi, S.Ag., M.H.I
(Sekretaris PW Muhammadiyah Sulteng)

“Apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sungguh Aku dekat. Kuperkenankan doanya orang yang berdoa, apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Mudah-mudahan mereka selalu dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mampu membedakan antara yang hak dan bathil, antara yang halal dan haram, mana yang boleh dan mana yang tidak. Agar orang memiliki kecerdasan spiritual, dituntut untuk menghadirkan keyakinan bahwa Allah SWT itu dekat.

Mengapa orang melakukan dosa, melakukan kezaliman, korupsi, zina, mengambil hak orang lain, karena tidak adanya keyakinan bahwa Tuhan itu dekat. Jika seseorang selalu berkeyakinan bahwa Tuhan itu dekat, maka dia akan selalu merasa terawasi dan sekaligus selalu berusaha melakukan komunikasi dengan-Nya, seraya berdoa dengan penuh keyakinan, sehingga mendapat bimbingan hidayah dari Allah SWT. Seseorang yang mendapat bimbingan kebenaran, maka kecerdasan spiritualnya akan melekat pada dirinya.

Bulan Ramadan melatih setiap orang Mukmin untuk memiliki kecerdasan spiritual. Di bulan Ramadan orang-orang beriman memiliki kecenderungan lebih taat. Orang yang melakukan ibadah puasa, sadar benar bahwa untuk sementara waktu tidak boleh makan dan minum pada siang hari, padahal sebelumnya itu adalah halal. Tapi karena kesadaran (kecerdasan spiritual) bahwa itu jika dilakukan akan membatalkan puasa, maka hal itu dijalaninya.
Ramadan sekaligus juga membuktikan bahwa menjadi taat itu bukan sesuatu yang sulit, yang penting seseorang memiliki kecerdasan spiritual.

Dalam kehidupan keseharian, kecerdasan spiritual juga mampu menjaga kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Atasan yang memiliki kecerdasan spiritual, tidak akan bertindak sewenang-wenang, karena dia sadar tindakannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Pimpinan proyek tidak akan berlaku curang, karena dia sadar bahwa kecurangan itu akan berakibat malapetaka di hadapan Allah SWT. Para elite politik atau penguasa tidak akan berani berdusta, karena dia yakin ketidakjujuran pasti akan terungkap di hadapan yang Maha Mengetahui Segalanya. Para penegak hukum tidak berani berlaku tidak adil, karena dia yakin ada ancaman neraka bagi hakim yang tidak adil, serta contoh-contoh lainnya.

Semoga Ramadan dengan segala rangkaian ibadah di dalamnya dapat menjadikan kita orang-orang yang cerdas spiritual, dalam menjalankan kehidupan keseharian kita. Wallahu A’lam.

(***)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.