Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Palu Bisa Jadi Pusat Laboratorium Seni Budaya

0 151

PALU EKSPRES, PALU – Potensi parwiisata di Kota Palu dinilai memiliki potensi luar biasa besar untuk dikembangkan, karena memiliki kekayaan yang besar utamanya dari segi keindahan alam dan tradisi budayanya.

Hal ini menurut Budayawan dan Profesor Musik dari Simon Fraser University, Vancouver, Kanada, Sutrisno, Ph.D. jika dikelola dengan sistem yang baik, maka Palu dapat menyejajarkan diri dengan beberapa destinasi lainnya di dunia.

“Potensi yang ada di Palu menurut saya luar biasa, tinggal memoles sedikit baik dari sisi artistik, edukasi dan pariwisata. Kalau sistemnya sudah jadi, saya yakin tidak kalah dengan Hawaii, Shanghai, bahkan Vancouver yang menjadi ikon di Amerika Utara dan pilihan UNESCO sebagai the best city to live selama lebih dari dua dekade. Apalagi kekuatan adat yang ada di Palu tidak dimiliki oleh beberapa Negara lain, bagi saya itu kekayaan luar biasa yang harus dijaga,” tutur Sutrisno, saat ditemui usai menghadiri salah satu kegiatan Dinas Pendidikan Kota Palu, Senin 28 Mei 2018 malam.

Menurut pria asal Yogyakarta ini, salah satu hal yang menarik untuk dikembangkan di Kota Palu, adalah seni musik tradisionalnya.

Ia menyebutkan, alat musik khas Kaili yakni lalove dan gimba, memiliki ciri khas dan unsur eksotisme tersendiri, yang disebutnya sebagai mutiara terpendam.

“Dalam hal ini musik daerah khususnya di Palu belum banyak dikenal di luar, semacam ada unsur eksotisme tersendiri, yang dianggap sebagai mutiara terpendam, kalau diekspos secara benar dan baik akan bisa mendatangkan rangsangan yang lebih mengglobal,” jelasnya.

Olehnya, ia merasa sangat penting langkah yang diambil oleh Pemerintah Kota Palu, untuk mengenalkan seni musik tradisi Kaili ke luar negeri. Beberapa waktu lalu, Pemkot mengutus salah seorang seniman asal Kota Palu, Smit Ilyas Abdul Hamid, ke Kanada untuk berkolaborasi bersama para mahasiswa seni musik serta komunitas setempat, untuk mengenalkan alat seni musik tradisi Kaili, khususnya lalove dan gimba.

Hal ini kata Sutrisno, merupakan bagian dari pengembangan interdisciplinary study dan proses kolaborasi antara unsur lokal dan global, yang diharapkan dapat menguntungkan dan diterima oleh semua pihak, baik dari sisi musisi, musikal, sosial, serta edukasional.

Sutrisno yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, juga bercerita, ia pernah mementaskan lalove di kelas yang diajarnya di Simon Fraser University.

Ternyata, dari pementasannya tersebut, para mahasiswa setempat lalu menganalisa bahwa kekuatan bambu dengan nadanya yang keluar dari lalove tersebut, merupakan unsur kekuatan yang luar biasa.

“Begitu juga dengan penggunaan drum, yang jika diistilahkan di Jawa ada gamelan, di Palu ada gimba, di Afrika ada djembe dan lain-lain, itu tampuk kekuasaan musikal ada di situ. Yang lebih menarik, kalau drum digabung dengan lalove atau alat musik lain, menimbulkan semacam terapi atau digunakan untuk penyembuhan, itu luar biasa dari sisi keilmuan dan itu perlu diteliti,” ujarnya.

Hal inilah yang menurutnya, menjadikan Kota Palu layak disebut sebagai pusat laboratorium seni budaya dunia.

“Kenapa dibilang layak, karena banyak hal yang belum terungkap, dan memang banyak sekali yang bisa diungkap. Itu merupakan sumbangsih luar biasa untuk pendidikan dunia,” tegasnya.

Sutrisno yang juga sebagai Konsultan Indonesian Performing Arts and Culture, hadir di Palu menghadiri undangan Wali Kota Palu, sebagai bagian dari persiapan Festival Palu Perkusi yang akan diadakan pada bulan Agustus 2018 mendatang.

Sutrisno sebelumnya telah memperkenalkan seni musik tradisi Palu, di Simon Fraser University dan beberapa komunitas seni dan sekolah privat seni di Vancouver, Kanada. Bersama Smit Ilyas Abdul Hamid, mereka telah membuat rekaman studio salah satu musik tradisi asal Palu, yang nantinya akan disebar ke seluruh dunia.

“Alhamdulillah berkat doa dari semua pihak, Insyaallah salah satu musik dari Palu bakal diterima di seluruh dunia. Rekamannya sudah jadi tinggal menunggu rilisnya.

Ia juga mengaku, pada bulan Agustus nanti berencana akan membawa beberapa mahasiswa perwakilan dari Universitas dan juga komunitas di Kanada, untuk mengembangkan proses pembelajaran seni, khususnya perkusi.

“Nanti akan kita padu dengan musik asal Palu seperti lalove dan gimba,” pungkasnya.

(abr/Palu Ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.