Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Cerita Abdul Razak, Belajar Dari Orang Tua dan Terima Bayaran Seikhlasnya

0 41

Memasuki bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri ataupun Hari Raya Idul Adha, sebagian umat Islam menyambutnya dengan melaksanakan ritual ziarah ke makam-makam keluarga.

Laporan: Imam El Abrar, Palu Barat

RITUAL ziarah ini secara umum digelar sekaligus memanjatkan doa untuk keselamatan anggota keluarga yang telah berpulang. Hal ini dimanfaatkan oleh beberapa masyarakat sekitar pemakaman, untuk menawarkan jasa membaca doa bagi para peziarah. Salah satunya Abdul Razak, pembaca doa di lokasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pogego, Palu Barat.

Seorang pria berkacamata, berbaju koko putih dan berkopiah warna senada, sedang asyik membersihkan salah satu area makam di TPU Pogego, pada Rabu 16 Mei 2018 atau sehari jelang Ramadan 1439 H. Saat ditemui oleh media ini, pria bernama Abdul Razak tersebut mengaku merupakan seorang pembaca doa, yang dalam istilah Kaili disebut “Labe”.

Labe pada momen tertentu, termasuk jelang Ramadan tiap tahunnya, menawarkan jasa membaca doa bagi para peziarah yang datang ke lokasi pemakaman. Razak mengaku, telah menjadi Labe di lokasi TPU Pogego sejak puluhan tahun lalu.

Ia mengaku, dari tujuh orang bersaudara di keluarganya, dia bersama dua saudara lainnya memilih untuk bekerja sampingan sebagai Labe. Ia mengaku, belajar menjadi pembaca doa dari orang tuanya, yang juga seorang Labe di TPU Pogego.

“Saya di sini sudah sekitar dua puluhan tahun. Saya mulai jadi Labe sejak masih sekolah, awalnya sedikit-sedikit mengikut orang tua. Kebetulan bapak saya seorang guru dan dikenal sebagai ustad, akhirnya saya belajar juga dari bapak saya,” ungkapnya.

Ia menceritakan, kegiatan ziarah makam umumnya ramai pada tiga momen hari besar agama Islam, yakni jelang Ramadan, jelang Idul Fitri dan jelang Idul Adha. Pada tiga momen tersebut, ia bersama dengan beberapa orang Labe lainnya, memanfaatkannya untuk membantu para peziarah, yang tidak menyiapkan pembaca doa dari rumah.

“Kadang para peziarah membawa pembaca sendiri dari rumah. Yang tidak membawa pembaca itulah, yang menggunakan jasa kami di sini,” kata Razak, yang menyebutkan di TPU Pogego aktif sekitar tujuh orang Labe yang melayani peziarah.

Ia mengaku, mendapatkan pengetahuan terkait doa, sejak dari bangku sekolah. Ilmu itulah yang berupaya ia aplikasikan dalam menjalankan perannya sebagai Labe. Untuk menjadi Labe kata pria yang sedang menekuni studi di Fakultas Syariah IAIN Palu tersebut, tidak melalui penujukan khusus dari pihak manapun, melainkan telah turun temurun dilaksanakan sejak puluhan tahun. Bagi Razak, menjadi seorang Labe merupakan panggilan jiwa yang didorong semangat untuk dapat membantu orang lain yang membutuhkan.

Karena dorongan itulah, ia mengaku tidak memasang tarif khusus bagi para peziarah yang ingin menggunakan jasanya. Para peziarah diberikan kebebasan untuk memberikan bayaran, sesuai dengan keikhlasan masing-masing.

“Ini lebih karena dorongan jiwa dan memanfaatkan ilmu, sekaligus meneruskan apa yang dilakukan orang tua. Untuk tarif kita tergantung dari keikhlasan peziarah, kalau memang keikhlasannya orang segitu ya segitu juga kita ambil, kadang Rp5 ribu, Rp10 ribu per peziarah, kadang lebih besar lagi dari itu. Kita di sini tidak ada memberi patokan tarif, karena semangatnya yang penting kita juga dapat pahala, dan yang punya niat juga mendapat pahala,” terangnya.

Pria murah senyum tersebut juga bercerita, selama menjadi Labe di TPU Pogego, ia sering bertemu dengan guru yang pernah mengajarnya di sekolah. Oleh gurunya tersebut, ia dipersilakan untuk membacakan doa. “Itu salah satu paling berkesan, kadang bertemu dengan guru kita sewaktu di sekolah, yang walaupun statusnya sebagai guru, tapi dia menyuruh kita yang membacakan doa,” demikian Razak.

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.