Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Janji Para Kandidat Rektor Untad, Intinya Tidak Akan Menyusahkan Mahasiswa

0 61

PALU EKSPRES, PALU – Saat ini Universitas Tadulako (Untad) telah berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Dengan status yang disandang tersebut, bagi bakal calon Rektor Untad periode 2019-2023, Prof. Dr. H. Djayani Nurdin, Untad sudah harus diberi sentuhan-sentuhan kewirausahaan.

Sentuhan pemikiran kewirausahaan ini kata Djayani, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Untad bidang Kemahasiswaan, dapat dijalankan dengan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, terkait pemanfaatan potensi-potensi yang dimiliki oleh Untad. Sehingga, nantinya penerimaan Untad bukan hanya berasal dari Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.

“Bukan kita berbisnis di kampus, tetapi potensi universitas ini ke depan mau tidak mau harus ada kerja sama, sehingga penerimaan utama itu bukan hanya dari UKT mahasiswa. Kalau masih UKT yang menjadi penerimaan satu-satunya maka akan repot, ke depan ini harus kita ubah,” jelas Djayani, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 8 Mei 2018.

Ia menuturkan, untuk mewujudkan hal tersebut maka pertama-tama perlu dilakukan identifikasi semua potensi yang dimiliki oleh Untad, baik Sumber Daya Manusia (SDM) maupun aset yang telah dibangun oleh Rektor Untad saat ini, Prof. Dr. H. Muh. Basir Cyio.

“Identifikasi semua potensi yang ada di Untad, baik manusianya maupun aset yang telah dibangun demikian besar oleh Rektor saat ini, yang mana bisa kita kerja samakan, untuk menjadi sumber penerimaan universitas, yang bisa kita gunakan untuk mengembangkan banyak hal,” lanjutnya.

Djayani mencontohkan potensi peneliti yang dimiliki Untad, dapat dimanfaatkan untuk bekerja sama dengan beberapa pihak yang membutuhkan penelitian, salah satunya adalah pemerintah daerah. Dengan kerja sama antara pemerintah dan peneliti Untad, selain dapat memberikan solusi terkait berbagai permasalahan, juga dapat memberi manfaat bagi para peneliti Untad.

“Kita tampilkan peneliti kita ke pemerintah untuk kerja sama, bahwa ini loh orang-orang Untad yang punya potensi dan kemampuan. Sehingga nama Tadulako berkembang menjadi semakin besar, teman-teman peneliti juga sejahtera, kenaikan pangkatnya melalui kajian penelitian juga berkembang, kan ini bagus,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan, saat ini Untad memiliki aset berupa lahan seluas kurang lebih 104 hektar di daerah Sibalaya. Aset tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan potensi peneliti, jika dapat dikerjasamakan, utamanya bersama dengan pemerintah daerah.

“Misalnya potensi Fapetkan (Fakultas Peternakan dan Perikanan), banyak guru besar yang punya keahlian seperti bagaimana menggemukkan sapid an ahli pakan ternak. Dari penelitian mereka ini kan potensi sebenarnya, kalau kita melihat secara sederhana berapa sih kebutuhan daging di Sulteng saat ini, kenapa tidak ini yang kita isi dengan potensi peneliti yang kita punya, terus kita kerjasamakan dengan Dinas Peternakan baik Provinsi maupun Kabupaten. Kita libatkan guru-guru besar yang kita miliki untuk meneliti,” tuturnya.

Sejak pendidikan Sarjana (S1), Djayani mengambil kuliah jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi Untad, lalu lanjut Program Magister (S2) Manajemen dan Doktor (S3) Manajemen dengan spesialisasi Keuangan, di Universitas Airlangga Surabaya. Ia juga merupakan orang pertama di Untad, yang mempelajari pasar modal.

Menerima beasiswa sejak kuliah S1 hingga S3, sosok yang menyandang gelar Profesor sejak tahun 2012 ini menegaskan, bahwa ia akan berupaya untuk tidak menyusahkan mahasiswa, selama mereka mau belajar.

“Sejak S1 sampai S3 selalu mendapat beasiswa, saya tidak pernah disusahkan selama jadi mahasiswa,. Jadi saya juga tidak mau menyusahkan mahasiswa, selama mereka mau sekolah,” tandas Djayani yang semasa kuliah aktif di Unit Kegiatan Resimen Mahasiswa.

SIAP MENGHADAPI KOMPETITOR

Bagi Dr. Muh. Nur Ali, wacana revolusi industri 4.0 yang saat ini tengah mengemuka, serta tuntutan literasi yang bukan lagi sekadar kemampuan membaca, menulis dan berhitung, melainkan telah diarahkan pula pada literasi digital, menuntut kesiapan semua bidang pendidikan.

Olehnya, bagi salah satu bakal calon Rektor Universitas Tadulako (Untad) periode 2019-2023 ini, penting bagi seluruh bidang pendidikan, termasuk perguruan tinggi untuk melakukan reorientasi kurikulum.

“Kita diarahkan pada literasi digital, yang menuntut kesiapan semua bidang pendidikan, sehingga penting dilakukan reorientasi kurikulum. Jika tidak, ini menjadi persoalan tersendiri,” kata Nur Ali, saat ditemui, Selasa 8 Mei 2018. Semangat inilah yang dikatakan alumnus S1 Sosiologi Untad tersebut,  menjadi salah satu pendorongnya maju dalam bursa suksesi Rektor Untad.

Ia menuturkan, sejak waktu megatrend 2000, taraf peralihan peradaban manusia setiap ratusan tahun, kini telah masuk pada era digital, setelah sebelumnya mekanisasi, produksi massal dan komputer. Era digital ini kata Nur Ali sudah menuntut setiap orang untuk berlaku internet minded.

Menurut alumni S3 Psikologi Universitas Negeri Malang ini, universitas berperan penting dalam melakukan penyesuaian, dengan mempersiapkan para alumninya untuk masuk ke era digital tersebut. Tuntutan-tuntutan revolusi industri 4.0, kata Nur Ali, sangat membutuhkan persiapan intelegensi, persiapan kapasitas dan kapabilitas setiap orang.

“Yang paling mendesak adalah relevansi kurikulum. Penting dilakukan penataan, sehingga selain bisa memastikan masa studi tetapi kontennya juga lebih bisa diandalkan, untuk bersesuai dengan era revolusi industri 4.0 yang tuntutannya luar biasa. Mahasiswa dan alumni kita, diharapkan dapat menjadi orang yang merespon perkembangan tersebut,” ujarnya.

Terkait persaingannya dengan tiga calon Rektor Untad lainnya, yang notabene semuanya bergelar Profesor, Nur Ali mengaku sangat siap. Menurutnya, para calon Rektor Untad lainnya masing-masing memiliki kapasitas yang sangat baik dan mumpuni. “Saya pikir mereka bagus-bagus dan hebat semua. Insyaallah saya siap,” tandasnya.

(abr/Palu Ekspres)

Tinggalkan balasan

Email tidak akan dipublikasikan.