Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Batik Bomba Sebatas Cindera Mata

149

DILEPAS WAWALI – Sekretaris DKST Ince Rahma Borahima,(lima dari kiri) foto bersama Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo Said, Rabu 24 Februari 2016. Tampak juga dua utusan Sulteng yang akan mengikuti kegiatan duta batik nusantara di Jakarta. (HUMAS PEMKOT)

DKST Desak Kadin Pasarkan Batik Bomba

PALU, PE – Kegundahan kerap menyelimuti benak para pencinta  batik khas Palu.  Usaha untuk menjadikan batik bomba sebagai busana pilihan warganya seperti mentok di lorong buntu. Berbagai usaha dilakukan. Membuka keran promosi, membuka stand di butik pertokoan hanya segelintir dari ikhtiar yang sudah dilakukan.

Toh semuanya belum mampu membangkitkan alam bawa sadar warganya  agar  menjadikan batik bomba sebagai busana pilihan sekaligus menjaga agar image batik khas ini tetap terjaga. Kepada wartawan, sesaat setelah tatap muka dengan Wakil Walikota Palu, Sigit Purnomo, Sekretaris  Dewan Kesenian Sulawesi Tengah (DKST), Ince Rahma Borahima mencurahkan kegalauannya soal nasib batik bomba ini.

Karenanya Ince mendesak Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulteng, bisa memberikan akses pasar untuk memasarkan batik khas Palu ini.  Ince menilai, selama ini belum  satu pun pihak yang mau menampung produksi tenun bomba dalam skala besar untuk kepentingan pemasaran. ”Ini seharusnya menjadi salah satu tugas Kadin membangun pangsa pasar kain tenun batik bomba,” kata Ince kepada Palu Ekspres, Rabu 24 Februari 2016.

Menurutnya, pola penjualan kain tenun batik bomba  yang terjadi saat ini masih dalam  dalam skala kecil. Itupun hanya untuk kebutuhan cendera mata. Pembeli umumnya mendatangi langsung rumah-rumah perajin. “Seharusnya ada juga semacam koperasi yang setiap saat siap membeli produksi tenunan dari  tangan perajin,” ujar Ince saat menghadap ke Wawali Kota Palu Sigit Purnomo melaporkan keberangkatan duta batik Sulteng di Jakarta.

Memang  kata Ince, kain tenun batik bomba saat ini sudah dikenal luas secara nasional. Namun hal itu tak berpengarush signifikan terhadap pemasaran. Seharusnya kerajinan batik bomba ini sudah memiliki pangsa pasar secara nasional bahkan mungkin internasional sehingga perajin bisa produktif agar budaya lokal Sulteng ini bisa tetap terjaga.

“Kalau hanya untuk cendera mata itu jumlahnya kecil dan hanya pada moment-momen tertentu saja,” jelasnya. DKST sendiri kata Ince sejauh ini hanya bisa mendorong dari sisi promosi kain tenun batik  bomba. Salahsatu upaya promosi itu adalah dengan rutin mengikuti even tahunan duta batik  nusantara. “Even itu salah satu pola untuk memperkenalkan batik bomba sekaligus menegaskan batik  bomba asli budaya Sulteng sehingga menghindari adanya klaim-klaim dari daerah  lain,” jelasnya.

Tahun ini DKST akan mengirim tiga putra putri Sulteng untuk mengikuti even duta batik nusantara yang akan digelar di Hotel Jayakarta, Minggu 28 Februari 2016 di Jakarta. Tiga utusan itu antara lain Imam Ambar Sukma Lamakarate, M Hardiansyah Hari Mulya serta Pryanka Imam Al-Gazali.

Even duta batik nusantara tambahnya baru digelar untuk tahun kedua. Tahun pertama yaitu 2015 silam. Pada even  tahun lalu, peserta asal Sulteng berhasil meraih juara untuk beberapa katagori. “Setidaknya ada 100 motif batik bomba dari Sulteng yang harus terus kita perkenalkan  melalui even itu,” demikian Ince.(mdi)

Komentar ditutup