Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Pulang Mengabdi di Kampung Halaman

71

Ir. Aptripel Tumimomor, MT

  • Nama :  Aptripel Tumimomor, MT
  • Tempat/tgl lahir :  Kolonodale, 3 April 1966
  • Istri :  HO Liliana
  • Anak         :  Tiga orang
  • Pekerjaan :  Pengusaha, dosen UKIP Makassar

Dia termasuk salah satu calon Bupati Morowali Utara yang merasa terpanggil untuk pulang kampung dan mengabdi di tanah kelahirannya. Aptripel Tumimomor atau lebih akrab disapa Ipe merupakan putra daerah asli Mori. Ia dilahirkan di Kolonodale, pada 3 April 1966. Usianya kini 49 tahun.

Kedua orangtua Ipe adalah putra daerah asli. Bapaknya Hendrik Tumimomor Kamesi dilahirkan di Desa Tinompo (Kecamatan Lembo), dan ibunya Maligene Damantora Lande dilahirkan di Desa Moleono (Kecamatan Petasia Barat). Keduanya merupakan tokoh pendidik (guru) yang telah melahirkan banyak murid yang sukses. Keduanya juga berhasil mendidik anak-anaknya untuk disiplin dan sukses.

“Saya putra daerah, lahir dan besar di tanah Mori. Karena itu saya terpanggil untuk kembali dan mengabdi di kampung halaman. Saya punya tanggung jawab moral untuk membangun daerah ini,” jelas turunan mokole Ede Kamesi ini. Mokole Ede Kamesi merupakan Datu Ri Tana VIII/Raja Mori tahun 1907-1928.

Setelah menamatkan pendidikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres I di Tomata (1979) dan SMP Negeri Tomata (1982), Ipe melanjutkan pendidikan di SMA Negeri I Poso dan tamat tahun 1985. Dari sini kemudian anak ketiga dari empat bersaudara ini merantau untuk kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan. Di kota ini pula ia menetap dan merambah dunia bisnis hingga kini.

Di mata teman-temannya, Ipe dikenal sebagai pribadi yang gampang bergaul dan sederhana. Ia juga cerdas. Sejak di bangku SD sampai SMA ia selalu juara kelas. “Dia itu (Ipe) pinter sekali. Saya bangga kalau teman sekolahku terpilih memimpin Morowali Utara,” begitu komentar salah seorang temannya di grup facebook (FB) “Aptripel-Asrar Mentee”.

Di Makassar, Aptripel kuliah di Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) jurusan teknik sipil. Ia berhasil menyelesaikan program studi Strata 1 (S1) tahun 1991. Di kampus ini pula ia mengambil program magister (S2) dengan kosentrasi keilmuan yang sama. Ia pun berhak menyandang gelar magister teknik (MT).

“Mudah-mudahan pengalaman dan ilmu saya ada manfaatnya untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur di Morowali Utara. Banyak hal yang harus diperbaiki terutama jalan, jembatan, irigasi, dan infrastruktur lainnya,” jelas Ipe.

Dari pernikahannya dengan HO Liliana, pasangan ini dikaruniai tiga orang anak masing-masing Andhyka Haryanto, Arlyn Stevani dan Arfan Irvanoff. Andhyka kini sedang menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Ukrida Jakarta dan Arlyn di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Si bungsu Arvan masih di bangku sekolah SMA.

Di tengah kesibukannya sebagai pebisnis, Aptripel Tumimomor juga masih sempat mengabdi di almamaternya sebagai dosen di Fakultas Teknik UKIP Makassar. Beberapa unit usahanya seperti perkebunan di Mamuju (Sulbar), konstruksi bangunan, hotel di Kendari (Sultra), hanya bisa dikontrol dari jauh karena ia kosentrasi mengikuti pilkada di Morowali Utara. (erick tamalagi)

==================================================

Moh. Asrar Abd. Samad

Aspirasi Bungku Utara dan Mamosalato

  • Nama :  Asrar Abd. Samad
  • Tempat/tgl lahir : Baturube, 25 Desember 1974
  • Istri :  Farida Istighomah
  • Anak :  Empat orang
  • Pekerjaan :  Wiraswasta, mantan Wakil Ketua I DPRD Morowali (2009-2014)

Calon Wakil Bupati Morowali Utara (Morut), Moh. Asrar Abd. Samad, merupakan satu-satunya kandidat yang mewakili wilayah Kecamatan Bungku Utara dan Kecamatan Mamosalato. Ini merupakan komitmen awal dari calon bupati Aptripel Tumimomor untuk mencari calon wakil bupati yang mewakili dua kecamatan itu.

Kenapa harus dari dua kecamatan itu? Ini merupakan penghargaan khusus karena tanpa dukungan Kecamatan Bungku Utara dan Kecamatan Mamosalato, maka Kabupaten Morowali Utara tidak mungkin mekar atau menjadi kabupaten definitif. Jadi, penghargaan kepada tokoh atau kader dari dua kecamatan itu sangat layak diberikan untuk bersama-sama membangun Daerah Otonomi Baru (DOB) Morowali Utara.

Penghargaan atau penunjukkan Asrar sebagai calon wakil bupati tentu saja tidak asal tunjuk. Ia memiliki kompetensi yang mumpuni. Ayah empat orang anak ini sudah malang-melintang di dunia politik. Kini ia menjabat sebagai Ketua DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Kabupaten Morowali Utara. Karir politiknya diawali ketika ia menjadi pengurus PBB Kabupaten Poso  tahun 1998.

Setelah Kabupaten Morowali terbentuk tahun 1999, Asrar menjadi pengurus PBB di Kabupaten Morowali. Ketertarikannya masuk dan bergabung di PBB karena partai ini mengusung visi dan misi menyangkut kebangsaan dan keumatan. “Walaupun waktu itu saya masih sangat muda, saya sudah tertarik mengikuti isu-isu kebangsaan,” jelas suami Farida Istighomah itu.

Karir politik Asrar menanjak terus sehingga ia menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Morowali periode 2009-2014. Asrar juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Kecintaannya terhadap organisasi sudah tumbuh sejak di bangku sekolah. Asrar mengikuti pendidikan dasar di Luwuk yakni SD Negeri Pembina Luwuk (1987), SMP Negeri I Luwuk (1990), dan SMEA Negeri Poso  (1993). Ia selalu aktif dalam berbagai kegiatan.

Selain itu, lingkungan keluarga Asrar juga sangat mendukung. Ayahnya, Abdul Samad, dikenal sebagai salah seorang tokoh masyarakat Bungku Utara. Karena ketokohannya pula sehingga Abdul Samad dipercayakan sebagai Kepala Desa Baturube selama 35 tahun. Ini merupakan rekor sebagai kepala desa terlama.

Mengenai keempat anaknya masing-masing Bayu Kiflan Saputra, Falina Sukmawati, Anugerah Moh Risky, dan Aswa Didja AS, Asrar mengatakan dia tidak pernah memaksakan kehendak apakah mereka harus jadi politisi atau tidak. “Saya tidak otoriter. Biarlah mereka berkembang sesuai zamannya. Kita orangtua berkewajiban untuk membimbing anak-anak,” jelas Asrar. (erick tamalagi)

 

 

 

Komentar ditutup