Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Sigi Bangun Monumen Kenang GMT

19

MENYAMBUT GMT – Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Sigi, Dr Dewi Cahyawati Abdulah, (tengah) terus melakukan konsolidasi menyambut peristiwa langka GMT di Sigi, 9 Maret 2016 nanti. (NADIA//PE)

PALU, PE – Kabupaten Sigi termasuk salah satu spot paling ideal untuk mengikuti detik -detik terjadinya Gerhana Matahari Total (GMT) yang menurut para ahli bakal terjadi 9 Maret nanti. Karena itu pemerintah setempat terus menyiapkan semua hal hal teknis untuk menyambut datangnya peristiwa langka tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Sigi, Dr Dewi Cahyawati Abdulah, mengatakan, untuk merawat ingatan generasi yang akan datang, pihaknya akan mendirikan monumen peringatan GMT di Kabupaten Sigi. Monumen tersebut akan dibangun di depan lokasi arung jeram Sungai Gumbasa. Setidaknya dengan monumen ini generasi akan datang akan terus mengingat terjadinya peristiwa alam langka yang pernah terjadi di daerahnya.

”Untuk mengenang momen langka ini, kami akan bangun monumen sebagai pertanda bahwa di Palu dan Sigi pernah terjadi Gerhana Matahari Total,” kata Dewi di Sekretariat AJI Palu, Senin 8 Februari 2016.
Dewi menjelaskan,  sebagai warga Kabupaten Sigi merasa terharu karena daerahnya menjadi salah satu spot perhatian para saintis kelas dunia. Ia berharap ini bisa  menjadi babak baru dalam perkembangan Kabupaten Sigi kedepan. Pada monumen itu, para turis yang mayoritas para ilmuan akan membubuhkan tanda tangan setelah didahului Gubernur Sulteng, Longki Djanggola.   ”Yang pertama akan bertandatangan gubernur, kemudian para  tamu atau turis membubuhkan tandatang dari tinta emas,” katanya.

Lebih jauh Dewi Cahyati, untuk kelancaran hajatan berskala dunia itu,  pihaknya terus berkoordinasi dengan  camat,  lurah serta warga setempat. Mereka diminta menyiapkan penginapan untuk mengantisipasi tetamu dari luar Sigi. Pasalnya, di  Sigi sendiri kata dia, sejumlah acara mulai digelar sejak  6 – 8 Maret 2016. Diperkirakan even even itu akan membetot perhatian pengunjung dari luar daerah. Karena itu, pihaknya menyiapkan akomodasi bagi mereka. Beberapa pesta rakyat yang akan digelar antara lain, kuliner khas daerah, tari – tarian budaya yang akan diikuti oleh seluruh kecamatan Sigi. Lalu ada pula upacara spiritual yang dilakukan  warga asli. ”Jadi Kabupaten Sigi  benar – banar festival budayanya bernuansa Kaili,” katanya.

Selain itu  ada beberapa event organizer (EO) yang ikut berpartisipasi dalam peristiwa gerhana matahari total di Sulawesi Tengah. Antara lain, EO asal Singapura dan ada juga beberapa lainnya. Para wisatawan asing yang datang tidak hanya peneliti tetapi ada juga yang ikut terlibat dalam kegiatan kesenian. Dewi juga mengatakan saat ini beberapa wisatawan dengan kualifikasi peneliti telah berada di Kabupaten Sigi. Merekan melakukan pemetaan wilayah.

Sejumlah daerah di Sulawesi Tengah yang akan mengalami gerhana  akan menggelar festival gerhana matahari yaitu, Poso, Parigi Moutong, Tojo Unauna, Luwuk Banggai dan kota Palu. Setiap Kabupaten akan melaksanakan berbagai kegiatan menyambut gerhana matahari total, dan kami juga di Sulawesi tengan memiliki agenda sendiri. Jadi dalam festival tersebut kekhasan setiap daerah akan ditonjolkan. Sedikitnya, ada delapan even yang akan diselenggarakan menyambut gerhana matahari total itu. Pawai etnik nusantara, lomba perahu dayung, internasional gateball tournamant, workshop, lomba musik bambu, gelar kuliner khas Sulawesi Tengah dan fashion show busana batik Sulawesi Tengah. (mg11)

Komentar ditutup