Public Affair; Apa Pula Itu..?

  • Bagikan

Oleh: Muhd Nur Sangadji

Sahabat karib yuniorku, Setya Budi AC Nurdin menelpon. Beliau memintaku menjadi pembicara pada Pra Musyawarah Ikatan Keluarga Sulawesi Tengah (IKST). Acara yang dihelat pada hari Sabtu, 6 Agustus 2022 itu, bertempat di Aula kantor Walikota Jakarta Pusat.

Tanpa basa-basi, saya langsung bilang siap. Padahal, saya belum tahu apa judul materinya. Saya memang terinspirasi oleh sahabat yang lain untuk soal yang begini. Paul Shutmuller, Managerku di UNDP-Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) saat saya dipilih untuk program City Development Strategy sebagai Urban advisory.

Itu tahun 2002. Dua puluh tahun lalu. Paul sampaikan kepada saya begini. Bila ada orang meminta kita melakukan sesuatu. Itu artinya, orang itu telah tahu bahwa kita mampu melakukannya. Paul bilang begitu sambil beri perbandingan. Satu saat, pimpinannya di PBB memintanya memimpin team perdamaian di Sarajevo pada saat berkecamuk perang di sana. Sementara, bidang keahlian Paul Shutmuller adalah planner perkotaan. Bidang yang tidak berhubungan langsung dengan masalah perdamaian. Tapi penunjukan itu terjadi karena pimpinan yakin Paul mampu untuk urusan itu. Tentu, Itu juga adalah “challenge” tersendiri.

****

Beberapa menit kemudian Budi mengirimkan time schedule. Ternyata, judulnya “Public Affair”. Bidang yang sesungguhnya tidak asing bagi kami berdua. Saya dan Budi saat S1, belajar Budidaya Pertanian. Di bidang pertanian ini, ada ilmu penyuluhan yang intinya adalah komunikasi. Dekat-dekat dengan diksi public affair. Waktu S2 saya belajar Ekologi Manusia. Induknya bernama geografi yang memayungi ilmu Ekologi, ilmu lingkungan, Sosiologi, Antropologi, pendidikan dan Psikologi serta GIS dan Remote Sensing. S3 masih di Ekologi Manusia yang mengkhususkan pada bidang penyuluhan pembangunan.

  • Bagikan