Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Saleh Bantilan Bakal Dinobatkan jadi Raja Tolitoli

1.821

PALU EKSPRES, TOLITOLI –  Pesta budaya akbar penobatan Saleh Bantilan sebagai raja Tolitoli atau dalam  bahasa Tolitoli “Matanggauk” akan digelar 10 Desember 2017 mendatang.

Ketua panitia pelaksana Iskandar Nasir saat menggelar jumpa pers menjelaskan, prosesi penobatan raja jarang terjadi karena hanya pernah dilaksanakan pada tahun 1951.

“Prosesi penobatan raja ini hanya pernah dilaksanakan sejak tahun 1951, Penobatan raja nanti berbeda dengan penobatan raja-raja sebelumnya yang masih memiliki kewenangan dan kekuasaan. Karena tujuan penobatan kali ini hanya untuk melestarikan budaya Tolitoli, bahwa eksistensi budaya kita masih ada,” kata Iskandar Nasir di hadapan sejumlah wartawan Senin (4/12).

Prosesi ritual penobatan raja atau matanggauk dalam bahasa Tolitoli, kata Iskandar, dilaksanakan secara bertahap mulai 6 Desember, diawali acara ritual adat dalam bahasa Tolitoli “Monoeng” yang artinya menodohkan, mendirikan dan menggantung pernak pernik di lokasi istana kerajaan atau Bale Masigi di Kelurahan Nalu kecamatan Baolan.

Kemudian pada 7 Desember ada ritual adat “pembuatan dajat” atau  berangkat pembuatan ritual adat atau hiburan rakyat  dan hiburan tradisional.

Besolnya pada Jumat tanggal 8 akan dilaksanakan ritual adat “manimba air” atau mengambil air di tujuh sungai yang ada sumber mata air di wilayah kerajaan.

Pada 9 Desember akan digelar ritual “Mamalino” atau mengumumkan kepada masyarakat bahwa akan ada penobatan raja. Dan pada 10  Desember merupakan hari puncak acara dengan berbagai macam ritual seperti pencucian, atau pingit. Setelah selesai raja akan diusung menuju batu besar dalam bahasa Tolitoli “Lantung” yang telah berada di pantai Gaukan.

“Di atas batu besar raja akan dinobatkan,” jelasnya.

Sampai saat ini lanjut ketua panitia, kesiapan acara pesta budaya sudah hampir final. Panitia selain  mengundang raja raja yang ada di Sulteng, juga mengundang raja Gowa dan raja Bone.

Sementara dari kerabat kerjaan Mujidin Bantilan menyatakan hajatan ini dilaksanakan adalah hanya untuk menjawab setelah wafatnya raja Tolitoli Hi. Anwar Bantilan dengan wasiatnya yang ditulis  3 tahun sebelum wafat, bahkan prosesi penobatan ini sudah dirembuk dengan sesepuh adat yang masih mengingat dan mengalami kejadian penobatan raja sejak tahun 1951.

“Acara prosesi adat ini sudah dirapatkan dengan sesepuh ada dan mereka sepakat untuk penobatan raja Saleh Bantilan yang juga Bupati Tolitoli.” Sebutnya.

(Mg6/Palu Ekspres)

Komentar ditutup