Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Jala Diduga Memakan Penyu Hijau Bersama Para Sipir di Lapas

273

PALU EKSPRES, PARIGI – Oknum PNS dengan nama akun Facebook Jala Ludin diduga mengkonsumsi penyu hijau yang gambarnya ia posting melalui akun facebooknya.

Informasi yang diterima Palu Ekspres, Jala, panggilan akrabnya, diduga memakan daging hewan yang dilindungi tersebut bersama para sipir di Rutan Olaya, Kabupaten Parigi Moutong.

“Saya baru liat postingan soal Jalaludin, memang dia sering tangkap dan makan penyu atau tuturuga. Itu dia bikin pantola dengan sipur rutan,” tulis sumber tersebut melalui massanger, yang diterima Palu Ekspres, Selasa (7/11).

Sementara itu, Jala saat dikonfirmasi Rabu (8/11), membantah hal tersebut. Ia mengaku bahwa penyu hijau yang ada dalam foto tersebut telah dilepaskan kembali, karena terjaring dalam serong milik nelayan.

“Siapa yang pilang itu, setan yang babillang itu. Penyu itu dilepas di tengah laut karena kena serong. Kejadiannya sudah lama, 31 Januari 2017 lalu di wilayah Pogego, Dolago,” jelasnya. Jala tak mau berkomentar lebih lanjut dan memutuskan sambungan telepon.

Sebelumnya, aksi tak pantas dengan memposting foto hasil tangkapan jaring di media sosial oleh salah seorang netizen mendapat rekasi dara para aktivis lingkungan.

Jala yang diketahui menjabat posisi penting di lingkup salah satu dinas di Pemda Parimo ini terlihat bangga dalam fotonya dengan tulisan “tinggal pilih yang mana kena selera”. Dalam foto yang diunggah melalui laman Facebook tersebut, Jala sedang memegang dua hewan laut yang berhasil dijaringnya. Di tangan kanan, ia memegang cumi ukuran besar, sementara di tangan kirinya seekor penyu hijau.

Aksi tersebut mendapat sorotan dari para netizen. Pemilik akun Hamzah Tjakunu, yang juga diketahui sebagai salah satu aktivis lingkungan di Parigi sangat menyayangkan aksi tersebut. Ia memberi tanggapan dalam komentar panjangnya.

“Jala Ludin, kalaupun pernyataanmu di lepas… Tapi anda sebagai orang terdidik dan bekerja sebagai PNS, jabatan Kepala bidang di salah satu dinas, Pemkab Parigi Moutong. Tidak etis memposting foto hasil tangkapan jaring, Penyu Hijau yg sangat dilindungi. Kalimat “tinggal pilih mana yg kena selera” berarti anda memberi peluang kepada publik, bahwa semua hasil tangkapan dalam foto itu, termasuk Penyu, bisa di konsumsi.”

Kami tidak mempermasalahkan Ketika gambar terjaringnya Penyu di lengkapi bahasa penjelasan bahwa;

“Penyu hewan di lindungi. Terkena jaring dan segera di lepas”

“Bahasa itu justru memberi apresiasi positif banyak pihak termasuk kami pecinta satwa bahwa saudara adalah orang yg bijak dan arif terhadap lingkungan. Semoga anda paham perasaan kami dan hukum yang berlaku.

Selamatkan TELUK TOMINI…. ! Jaga dan lindungi satwa langka dari kepunahaan. Hamzah sendiri membuat status protesnya tersebut pada Minggu (5/11) sekira pukul 18.30 WITA.

Postingan protes tersebut mendapat komentar dari sejumlah netizen. Banyak di antara mereka yang menyebut aksi tersebut keterlaluan dan perlu ditindak tegas sesuai hukum.

“Sepertinya harus diwarning keras dan diberi efek jera orang2 seperti ini.. no compromise..@save turtle..” tulis pemilik akun Shadiq Maumbu dalam kolom komentar.

“Ini sudah keterlaluan apakah dia tidak tau kalau hewan ini dilindungi..hal semacam ini harus dilaporkan ke pihak yang berwajib Korps Sabhara Parimo mohon di tindak lanjuti.” Demikian juga komentar pemilik akun Eky.

(MS/Palu Ekspres)

Komentar ditutup