Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Menyeberangi Lautan Melintas Buana demi Rejeki Agustusan

329

Jarang yang menyangka jika penjual bendera yang bertebaran di ruas jalan di Kota Palu bukan warga Palu. Mereka rela menyeberang lautan melintas buana untuk rejeki agustusan.

”Terima kasih warga Palu,” celetuk Suyono (42), salah satu penjual bendera kebangsaan Indonesia merah putih, di Jalan Dewi Sartika Selasa, 15 Agustus 2017. Suyono merasa bersyukur karena atensi warga Palu terhadap dagangannya sangat bagus. Datang jauh-jauh dari Pulau Jawa, boyongan dengan delapan kerabat – sesama penjual bendera, bapak dua anak bahkan sudah menjual 2.900 an picis bendera merah putih berbagai ukuran.

Total ada 3.000 picis yang dibawanya dari kota asalnya – Garut. Membuka lapak seadanya di ujung Jalan Dewi Sartika – Palu Selatan, Suyono mengaku sengaja memilih tempat arah keluar kota. Terbukti, sepekan lebih membuka jualan – pria ramah ini tinggal menyisakan beberapa picis. Jualannya terdiri bendera merah putih beragam ukuran dan umbul-umbul motif merah putih dan logo Burung Garuda. Untuk perorangan banyak membeli bendera merah putih. Jika kantor atau lembaga swasta membeli umbul-umbul.

”Belinya juga banyak. Bendera biasanya sampai empat buah, umbul-umbul sampai 10 buah,” katanya. Harga juga bervariasi sesuai ukurannya. Mulai Rp5.000 untuk yang kecil hingga Rp35.000 untuk ukuran normal. Umbul-umbul antara Rp50.000 – Rp60.000.
Suyono kemudian menjual juga bambu sepanjang 4 – 5 meter yang berfungsi untuk tiangnya. ”Biasanya ada yang urung beli karena belum ada tiang. Nah ini sekalian dengan tiangnya,” katanya terkekeh. Sebatang dihargai Rp15 ribu.

Ditanya keuntungan bersih, Suyono enggan membeber detail. ”Pokoknya ada, kita kan sudah berusaha masa gak ada untungnya,” ungkapnya. Bendera-bendera itu bukan diproduksi sendiri melainkan dibeli dari penjahit. Ia dan kawan-kawannya kemudian membelinya untuk dijual antarpulau.

Suyono yang sudah kesekian kalinya berjualan bendera mengaku, ada kebanggaan merambati hatinya melihat antusiasme warga terhadap bendera kebanggaan tersebut. Ini bukan soal semata-mata profit finansial yang diperolehnya. Di tengah isu kebangsaan yang sedang dalam ujian yang dipicu sekat politik, sekat agama dan ras serta isu-isu primordialisme – panji merah putih masih efektif menjadi instrumen perekat bangsa ini. ”Saya syukur aja mas. Disamping secara finansial untung, warga masih seneng loh sama merah putih. Itu salah satu ikon identitas bangsa kita,” katanya.

Menurutnya, dengan berjualan bendera setidaknya ia ikut berkontribusi menjaga semangat persatuan bangsa yang kian hari semakin tergerus oleh makin menebalnya ashobiah (fanatisme kelompok) yang berlebihan. Indonesia kata dia adalah rumah bersama, rumah besar bagi kemajemukan.

(kia/Palu Ekspres)

Komentar ditutup