Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

DS LNG Lepas Maleo Hasil Konservasi

178

PALU EKSPRES, LUWUK – Untuk kedua kalinya pihak Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (DSLNG) Kabupaten Banggai melepas liarkan burung maleo hasil konservasi yang dilakukan dalam areal kilang. Pelepas liaran burung endemik Sulteng itu dilakukan bersama Pemkab Banggai, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng dan DSLNG, Minggu (6/8) di lokasi suaka marga satwa Bangkiriang Desa Moilong Kecamatan Moilong, habitat asli burung dengan nama latin macropechalon maleo tersebut.

Di tempat sama juga dilakukan penanaman bibit pohon kenari, sumber utama asupan makanan maleo di alam liar.

Tahun ini DSLNG berhasil menetaskan 17 telur maleo untuk kemudian dilepas ke habitatnya. Program penangkaran pertama kali mulai dilakukan tahun 2013 silam dan berhasil menetaskan 13 telur maleo.

Media Relation DSLNG, Rahmat Azis menjelaskan, penangkaran yang mereka lakukan menggunakan pola ex situ, yakni pengembangbiakan di luar habitat. Menurutnya telur-telur yang dietaskan di penangkaran merupakan telur maleo yang diperoleh dari BKSDA Sulteng.
“Kami bekerja sama dengan BKSDA. Telur dari BKSDA ini adalah hasil tangkapan telur yang coba diselundupkan masyarakat,”jelas Rahmat Azis.
Dia menjelaskan, jauh sebelum penagkaran, pihaknya melakukan kajian panjang dengan melibatkan akademisi Universitas Tadulako (Untad) Palu.

Menurutnya, penangkaran DSLNG dengan pola ex situ merupakan yang pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Umumnya jelas Rahmat, penangkaran dilakukan dengan pola in situ yakni pengembangbiakan didalam habitat.

Setelah dilepas, maleo hasil penangkaran DSLNG akan dipantau pihak BKSDA Sulteng dalam hal ini Kesatuan Pengelolaan hutan konservasi (KPHK) Suaka Marga Satwa Bangkiriang. KPHK memantau kehidupan maleo pada areal suaka seluas kurang lebih 12.500 hektar.

Operational Senior Manager DSLNG, Helfiah Chalis dalam sambutan penyerahan maleo meyebut, kegiatan itu merupakan program lingkungan DSLNG. Hal itu menjadi bagian tanggung jawab dan partisipasi DSLNG untuk menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati di Banggai, dan Sulteng pada umumnya.

Pejabat KPHK Bangkiriang BKSDA Sulteng, Nyoman Ardika menjelaskan, konservasi maleo dilakukan dengan banyak pendekatan sesuai kondisi daerah masing-masing. Menurutnya pola ex situ yang dilakukan DSLNG termasuk sukses dilakukan. Penangkaran maleo menurtu dia juga dilakukan bukan hanya DSLNG. Beberapa perusahan hulu minyak dan gas di Banggai juga melakukan hal sama. “Namun hanya DSLNG yang menggunakan pola ex situ,” jelasnya.

Maleo menurut Nyoman merupakan hewan endemik Sulteng dengan status apendik 1. Ini adalah status dimana hewan tersebut sudah terancam punah dan tidak boleh diperdagangkan. Nyoman merasa optimis dengan segala upaya konservasi yang dilakukan bersama itu akan tetap menjaga keberlangsungan hidup satwa yang menjadi icon Sulteng tersebut.

“Semoga kedepan kasanah konservasi maleo ini bisa bertambah. Dengan begitu, kita tak lagi kawatir hewan ini menjadi punah,”kata Nyoman.

Bupati Banggai, Herwin Yatim yang datang bersama wakilnya, Mustar Labolo di lokasi kegiatan, berharap kegiatan pelepasliaran itu tidak hanya berakhir menjadi sebuah kegiatan seremoni. Karena itu, lokasi pelepasliaran benar-benar harus dipertimbangkan secara jauh. Agar maleo yang telah dilepas bisa bertahan hidup.

“Setelah dilepas harus diperhatikan. Kegiatan ini harus terukur dan jangan tidak dipedulikan lagi,”harap Bupati.

(mdi/Palu Ekspres)

Komentar ditutup