Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Penipuan Online, dalam Setahun Keuntungan Bisa Rp600 Miliar

252

Besarnya skala itu juga tampak dari jumlah anggota sindikat. Dari Pondok Indah, polisi membekuk 29 orang yang rata-rata WN Tiongkok. Sementara itu, dari Kuta Selatan, aparat menahan 28 orang.

Yang paling banyak terdapat di Surabaya. Total, ada 93 orang yang ditangkap dan dikumpulkan dari operasi kemarin. Perinciannya, 12 WN Taiwan, 1 WN Malaysia, 1 WNI, dan sisanya WN Tiongkok. Sebanyak 26 orang di antara mereka adalah perempuan. Semuanya berasal dari Tiongkok.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos menyebutkan, sindikat tersebut sebenarnya diintai sejak Maret lalu. Ketika itu Mabes Polri menerima pengaduan kepolisian Tiongkok. Kepolisian Tiongkok menyebutkan, ada sejumlah sindikat penipuan dengan sasaran warga Tiongkok yang bermarkas di Indonesia.

Dari catatan Jawa Pos, dalam dua tahun terakhir ada empat kali penggerebekan. Yang pertama Mei 2015 di Cilandak, Jaksel. Ketika itu sebuah sindikat penipuan dengan modus yang sama digerebek. Dari operasi tersebut, 33 orang ditangkap. Kemudian, pada Desember 2015, giliran Polda Metro Jaya yang membekuk 30 anggota sindikat penipuan dengan sasaran warga Tiongkok.

Pada 2016, tidak terdengar penggerebekan. Namun, Mei lalu Bareskrim Mabes Polri bersama Polda Sumut menggerebek sebuah rumah di kawasan Tanjung Morawa, Deli Serdang. Ketika itu 77 WN Tiongkok di¬tangkap, kemudian diekstradisi ke Tiongkok. “Tampaknya mereka belajar bahwa di Jakarta tidak aman. Mereka kemudian pergi ke daerah-daerah,” kata seorang petugas Polda Metro Jaya yang juga menangani kasus tersebut.

Yang terakhir sekaligus yang paling besar adalah operasi penggerebekan yang dilakukan kemarin. Penangkapan simultan di tiga daerah. Dari hasil pengintaian selama lebih dari tiga bulan, sindikat itu merupakan satu bagian dari sindikat yang sama.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol M. Iqbal mengatakan bahwa pihaknya sekadar membantu peng¬ungkapan yang dilakukan Bareskrim, Polda Metro, dan kepolisian Tiongkok.

“Soal detailnya, saya juga belum tahu. Apalagi, tidak ada satu pun dari warga asing itu yang bisa berba¬hasa Indonesia. Entah itu beneran atau berpura-pura, saya tidak tahu,” ucap orang nomor satu di jajaran kepolisian Surabaya tersebut.

Komentar ditutup