Warga Buntung Karena Aksi Raih untung Ilegal – Palu Ekspres
Ekonomi

Warga Buntung Karena Aksi Raih untung Ilegal

GELAR SIDAK - Asisten II Dr Ir Bunga Elim Somba berdialog dengan penjual bawang merah. Rempah jenis ini harganya stabil di sejumlah pasar tradisional di Palu. foto KIA/PE

PALU EKSPRES, PALU – Ada banyak cara dilakukan untuk mendapatkan untung berlipat. Entah itu dengan cara jujur maupun curang. Pada momentum Ramadan seperti saat ini, para pemain utama di bisnis sembako selalu  panen untung.

Apa lagi jika praktek bisnisnya dibarengi dengan skandal seperti menimbun barang – maka keuntungan berlipat akan diraih dalam sekejap.

Pemerintah Provinsi Sulteng, yang tidak mau kecolongan oleh aksi ambil untung secara ilegal oleh para pemain bisnis sembako, terus mengintensifkan operasi ke pasar tradisional. Kali ini sidak (operasi mendadak) dilakukan  untuk memastikan pasokan  sembilan bahan pokok (sembako) terpenuhi secara konsisten dengan harga yang terjangkau.

Sebulan terakhir, tim pengendalian pangan daerah yang dipimpin Asisten II Dr Ir Bunga Elim Somba, bahkan telah tiga kali melakukan sidak di sejumlah spot strategis, baik itu pasar tradisional maupun pasar moderen.

Kemarin, Selasa (30/5), Elim Somba kembali memimpin rombongan yang terdiri dari Bank Indonesia, Bulog, Kepolisian dan Disperindagkop Sulteng, menggelar sidak untuk merespons kenaikan harga bawang putih.

Seminggu terakhir, harga bawang putih terus meroket hingga 50 persen dari Rp35 ribu perkilogram menjadi Rp80 ribu. Namun sejak Senin pekan ini harga  terkoreksi menjadi Rp75 ribu per kilogram. ”Itupun masih tinggi Pak. Kami harus jual berapa ke konsumen,” ungkap salah satu penjual kepada Elim Somba di Pasar Masomba, Senin (30/5).

Indikasi adanya moral hazard di balik tingginya harga bawang putih di sejumlah pasar tradisional terindikasi, setidaknya jika menyimak pengakuan dari Ibu Umi (disamarkan) pada petugas Bulog yang menyertai kunjungan Elim Somba kali ini.

Ibu Umi yang menjual sembako dan aneka rempah di Pasar Masomba mengendus, ada gelagat tidak baik dari distributor bawang putih yang memasok komoditi tersebut ke sejumlah pengecer di Pasar Masomba. Misalnya sebut Ibu Umi, distributor menyetok ke pengecer tidak  konsisten dan selalu diantarai sehari.

Misalnya jika datang pada hari senin esoknya hari selasa ia tidak datang dan akan muncul lagi pada kamis bahkan Jumat. Pada kedatangan berikutnya itu, si didistributor bilang, harga bawang putih mengalami kenaikan. Akibat pasokan yang tidak konsisten itu, lalu muncul kelangkaan barang.  Dari sinilah  harga-harga  terus naik tanpa bisa dikendalikan.

Sebagai penjual yang sudah tahunan berjualan sembako di Pasar Masomba, Ibu Umi mengaku sangat paham karakter distributor barang yang gemar mengakali konsumen dengan beragam modus. Salah satunya yang jamak dilakukan adalah memperlambat rantai distribusi untuk menciptakan efek kelangkaan barang.

Pasalnya, kata dia jika barang langka, harga di pasar akan sangat mudah dikontrol oleh distributor yang jumlahnya hanya beberapa orang itu.”Nanti kalau begini seterusnya saya tidak akan menjual lagi bawang putih menunggu hingga situasi normal. Karena akan rugi terus,” sungutnya.

Rekan Ibu Umi lainnya, punya jurus jitu mengakali modus tidak fair tersebut. Untuk menghindari risiko rugi, maka bawang putih yang disetok pada hari itu tidak akan dijual pada hari yang sama. Nanti dijual pada keesokan harinya saat stok barang datang berikutnya. Tentunya dengan harga baru yang akan terus disesuaikan.

”Kalau begini bisa mendapat untung sedikit,” katanya. Namun risiko yang ditimbulkannya adalah barang menjadi langka, harga meroket tinggi. Akibatnya, konsumen buntung karena aksi ambil untung yang ilegal para pihak yang terlibat dalam rantai distribusinya.

Bulog Stok 20 Ton

Prev1 of 2

Click to comment

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!