Tentang Meraih Impian – Palu Ekspres
Opini

Tentang Meraih Impian

Oleh: Tasrief Siara  

JIKA anda ditanya, siapa manusia pertama  menginjakkan kakinya  di puncak gunung tertinggi di dunia, Mount  Everest,  maka saya yakin masih banyak diantara anda yang mengingat nama Sir Edmund Hillary.

Tapi ketika  pertanyaan dilanjutkan, adakah diantara anda yang mengenal nama Tenzing Norgay,  saya yakin anda akan menggeleng,  sembari mengerutkan dahi, siapa yah?

Dikolom kecil ini kita akan bercerita  sambil belajar  tentang  pengalaman hidup dari sosok Tenzing Norgay. Ia lahir di Nepal   pada pengujung Mei  1914, nama aslinya adalah Namgyal Wangdi, keturunan suku Sherpa.
Kesehariannya, Tenzing Norgay bekerja sebagai pemandu untuk para pendiki gunung, hingga pemandu pendaki gunung disana biasa juga disebut dengan Sherpa.

Sekitar tahun 1920  sampai 1952, sejumlah tim ekspedisi dunia berusaha menaklukkan Mount Everest, namun selalu gagal. Sukses itu baru diperoleh pada tanggal 29 Mei 1953 jam 11.30 waktu setempat, Tenzing Norgay dan Edmund Hillary sukses menaklukkan gunung tertinggi di dunia itu.

Mereka tercatat sebagai manusia pertama yang menginjakkan kaki di Mount Everest. Namun, tahukah anda, satu langkah kaki menjelang puncak, Tenzing Norgay berhenti, ia mempersilahkan Sir Edmund Hillary  menjejakkan kaki pada titik nol dipuncak Everest,  yang ketinggiannya 29.026  kaki dari permukaan laut.

Ketika itu dunia dibuat heboh. Saat kembali dari puncak Everest, sejumlah jurnalis berebutan mewawancarai Sir Edmunt Hillary atas keberhasilannya, namun hanya satu wartawan yang mewawancarai Tenzing Norgay.

Sang reporter itu bertanya begini;,

“Bagaimana perasaan anda  mencapai puncak gunung tertinggi  didunia itu ? “.

Norgay hanya menjawab, “sangat senang sekali”.
Si reporter kembali bertanya, “Anda kan seorang pemandu, tentunya posisi anda berada di depan  Edmunt Hillary, bukankah seharusnya anda menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki dipuncak gunung tertinggi dunia itu? ”

Bagaimana jawaban Tenzing Norgay pada satu-satunya wartawan yang mewawancarainya itu?

“Benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan Edmunt Hillary  untuk menjejakkan kakinya  dan menjadi orang pertama yang berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi  didunia…… “.

Si wartawan kembali bertanya; “kenapa anda lakukan itu? ”. Tenzing Norgay dengan enteng menjawab, “ Karena itulah impian Edmund Hillary, bukan impian saya…….impian saya  adalah bagaimana agar bisa membantu dan mengantarkan seseorang meraih impiannya ”.

Jika kita mau sedikit membuka ruang kontemplatif dan kembali bertanya, apakah masih ada orang sekelas Tenzing Norgay disekitar kita, atau mungkin anda. Di zaman yang sangat kompetitif seperti sekarang ini, rasa-rasanya sudah sulit kita mencari orang dengan iklas memberi kesempatan pada orang lain lebih mampu atau yang lebih pantas meraih impianya.

Yang jelas  anda, saya dan kita semua, bukan Tenzing Norgay dengan iklas mempersilahkan Sir Edmund Hillary  menapaki  titik nol di puncak Mount Everest itu. ***

Penulis adalh Praktisi Komunikasi Massa

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!