Tentang Cudi – Palu Ekspres
Opini

Tentang Cudi

Oleh Amran Amier, Jurnalis Senior Palu

KETUA DPD Partai Golkar Rusdy Mastura as known as (aka) Cudi berpindah partai. Setelah bertahun-tahun sukses sebagai kader Golkar, pertahun ini Cudi menjadi anggota Partai Nasdem. Bicara simbol, Cudi beralih dari Kuning ke Biru. Tentang Cudi ini menjadi perbincangan dimana-mana.

Jagat politik Sulteng sekonyong-konyong heboh dengan berpindahnya Cudi ini. Memang sebelum itu terjadi, isu soal ini sudah beredar dan menjadi percakapan terbatas di beberapa orang atau kelompok. Namun, tetap saja, ketika hal itu benar terjadi, geger menyeruak. Semua terkaget-kaget.

Kekagetan itu, keterkejutan itu, rasanya wajar. Cudi bukanlah figur biasa di dunia politik Sulteng. Jabatan terakhir di Partai Golkat menunjukkan siapa dirinya. Ia adalah Ketua Golkar Donggala, sekaligus Ketua Harian Golkar Sulawesi Tengah. Ia juga lama menjabat sebagai Ketua Golkar Kota Palu.

Selama sepuluh tahun ia memimpin Kota Palu sebagai Wali Kota. Bahkan bila aturan membolehkan, rasanya tak cukup dua periode ia menjadi major di Kota Palu. Ia juga pernah menjadi Ketua DPRD Palu sebelum berpindah ke kursi eksekutif.

Semua ini jelas membuat banyak orang terkejut ketika dengan jas biru berlambang Partai Nasdem, Cudi memproklamasikan kepindahannya ini. Seketika itu orang membicarakannya, dan akademisi menguarkan aksioma dan opini mereka.

Sampai kemudian Cudi menyebarkan alasan soal migrasinya ke Partai Nasdem. Alasan pertama, di Golkar banyak penjilat. Yang kedua, Partai Nasdem lebih membutuhkannya. Untuk yang pertama ya bisa diterima. Namun, sejatinya, bukan hanya di Golkar, di negeri ini, penjilat ada dimana-mana. Bahkan, di Nasdem pun, tempat baru Cudi, belum tentu bersih dari para penjilat.

Di negeri dimana korupsi masih merajalela, bahkan di desa pun terjadi, penjilat bisa hadir dari segala penjuru, Bung! Hanya ada sedikit tempat di negeri ini yang bebas dari para penjilat. Semoga saja Partai Nasdem Sulteng satu dari sedikit tempat itu, sebagaimana harapan Cudi.

Untuk alasan kedua, bisa ya, bisa tidak. Bisa ya, bila ukurannya adalah daya keterkenalan (prominence) Cudi yang luar biasa. Cudi adalah satu dari sedikit politikus di Sulteng yang memiliki tingkat elektoral yang aduhai. Sejarah mencatat ia satu-satunya calon anggota legislatif yang perolehan suaranya melampaui kuota di DPRD Palu. Artinya, dari sisi, elektoral Nasdem memang butuh pengumpul suara (vote getter) sekelas Cudi dalam kontestasi elektoral di masa kini dan nanti.

Bisa tidak, bila ukurannya pengelolaan organisasi dan mengorganisir rakyat. Di Nasdem Sulteng bercokol para aktivis prodemokrasi dan aktivis lingkungan yang tidak sekadar merakyat, tapi malang melintang mengorganisir dan mendampingi rakyat. Artinya, bila untuk memajukan Partai, rasanya Nasdem Sulteng tak membutuhkan Cudi. Malah kehadiran Cudi bisa merusak tatanan partai yang telah dibangun dengan solid selama ini.

Di luar dua alasan Cudi ini, berkembang spekulasi. Migrasi Cudi dari Kuning ke Biru karena intrik politik di Kuning yang kencang. Cudi kecewa lalu bermanuver dengan menciptakan peluang di Biru. Benarkah? Yang pasti, cerita tentang Cudi akan terus mengalir…

***

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!