Bacaan Utama Masyarakat Sulteng

Program GSMS, Kadisdikbud Palu: Tidak Ada Seniman yang Makan Gaji Buta

0

PALU EKSPRES, PALU – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kota Palu, H. Ansyar Sutiadi menegaskan, bahwa tidak ada seniman yang makan “gaji buta” pada program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) di Kota Palu. Disebutkannya, jadwal mengajar para seniman di sekolah pada program GSMS ditentukan berdasarkan kesiapan DKP dan masing-masing sekolah.

Hal ini menjawab tudingan dari salah seorang anggota DPRD Kota Palu, Iqbal Andi Magga, yang sebelumnya menyebutkan bahwa tidak ada pengajar seni yang dikirim Dewan Kesenian Palu (DKP) di 26 SMP di Kota Palu, namun sekolah tetap membayar rutin biayanya tiap bulan melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“SMPN (di Kota Palu) hanya 22, sedangkan mekanisme pembayaran sangat jelas berdasarkan absensi dan keaktifan mengajar. Intinya tidak ada seniman yang makan gaji buta, karena harus dipertanggungjawabkan sesuai aturan,” tegas Ansyar, saat dihubungi Palu Ekspres, Senin 9 Juli 2018.

Ansyar juga menekankan bahwa program GSMS memiliki dasar UU nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dan Permendikbud nomor 1 tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis BOS.  Program GSMS kata Ansyar, adalah program dari Kemendikbud RI melalui Ditjen Kebudayaan, yang memberikan kesempatan kepada seniman melalui DKP dan SMP negeri untuk bersinergi melatih seni budaya di sekolah.

“Program ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan ekstrakulikuler, agar para peserta didik dapat menyerap langsung ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki oleh seniman. Ini dilaksanakan, dalam rangka menanamkan kecintaan dan wawasan yang lebih luas tentang karya seni budaya, sehingga dapat memperkuat karakter peserta didik di Kota Palu,” jelasnya.

Terkait pembiayaan para seniman dalam program tersebut, Ansyar menyebutkan hal itu sesuai Permendikbud Nomor 1 tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis BOS, yakni salah satu dari 11 komponen pembiayaan adalah untuk membiayai kegiatan ekstrakurikuler seni budaya di sekolah.

“Mekanisme pembayaran kepada seniman berdasarkan kehadiran dan keaktifan, yang dibuktikan dengan daftar hadir yang dibuat oleh sekolah,” ujar Ansyar.

Ia juga menyebutkan, program GSMS di Kota Palu saat ini sudah mulai menujukkan hasil, yakni dapat dilihat dari berbagai prestasi para peserta didik di berbagai sanggar seni sekolah, yang mendapat kesempatan dan undangan mengisi berbagai kegiatan seni budaya baik dari pemerintah, swasta maupun masyarakat umum, mulai tingkat Kota Palu hingga nasional bahkan internasional.

“Kota Palu saat ini mendapat apresiasi dari Kemendikbud RI melalui Dirjen Kebudayaan, dengan ditunjuk sebagai daerah prioritas dan percontohan penyusunan Pokok Pikir Kebudayaan Daerah PPKD), selain itu menetapkan dan memfasilitasi Palu Salonde Perkusi sebagai Platform INDONESIANA, dan menetapkan Kota Palu sebagai percontohan praktek cerdas Implementasi Kearifan lokal, dan peran tokoh informal dalam tata kehidupan masyarakat,” pungkas Ansyar.

(abr/Palu Ekspres)

Leave A Reply

Your email address will not be published.