Perjalanan Haji – Palu Ekspres
Opini

Perjalanan Haji

Oleh: Tasrief Siara, Praktisi Komunikasi Massa

SEJAK pekan kemarin sampai pekan depan, ribuan saudara kita calon jamaah haji asal Sulteng dan jutaan lainnya dari seluruh penjuru dunia, bergerak secara serempak ke satu titik: Tanah Suci, juga disebut Tanah Haram. Diiringi bacaan talbiyah yang khusyu dan syahdu untuk menunaikan rukun Islam kelima, naik haji.

Perjalanan haji, tak mirip dengan perjalanan ke Jakarta misalnya. Imam Al Gazali menggambarkan, pamitan untuk berangkat menunaikan ibadah haji mirip pamitan antara jasad kasar dan jasad halus. Tak heran, sering kita saksikan, antara mereka yang pamit akan berangkat, maupun yang ditinggalkan “terjebak” dalam keharuan yang teramat dalam, kadang disertai dengan deraian air mata.

Perjalanan haji memang sarat dengan nilai-nilai ritual dan spritualitas yang transenden. Saudara, kerabat dan tetangga tak henti memberi doa dan support kepada mereka yang akan menunaikan ibadah haji. Tak sedikit dari para kerabat itu memberi dukungan material, entah besar entah kecil, namun disana mesti dibaca: ada keikhlasan yang sublime yang tak bisa ditakar nilainya. Para saudara dan kerabat itu menyimpan mimpi dan harapan, tolong doakan disana, agar segera menyusul.

Bulan ini, jutaan manusia dari seluruh penjuru bumi bergerak serempak ke pusat titik bumi di Batullah sana. Pertanyaannya, kekuatan apa yang mendorong hingga jutaan manusia itu bergerak secara serempak? Bahkan mengeluarkan duit yang tak sedikit, meninggalkan anak, istri, suami, saudara dan kerabat.

Dorongan dan tekad yang mendalam menuju Tanah Suci oleh jutaan umat manusia, melahirkan energy dan gerakan serempak itu, sembari bertalbiyah di pusaran titik bumi: ka’bah, merasakan derita bunda Siti Hajar untuk anak anaknya Ismail yang terus menangis di tanah yang tandus, hingga hentakan kaki bocah Ismail memuncratkan air suci zam-zam, antara Bukit Safa dan Marwah.

Pada akhirnya bertemu disatu dataran nan maha luas, Padang Arafah dengan pakaian ihram yang putih dan suci. Disana tak ada sekat, tak ada batas antar bangsa, warna kulit apalagi suku.

Ritual ibadah haji itu memang harus siap dari segala sudut. Fisik yang terjaga, dukungan financial yang cukup, dan yang terpenting berangkat tanpa pretensi untuk kepentingan eskalasi sosial, kecuali untuk ketundukkan kepada Sang Maha Pencipta. Haji itu adalah bersinerginya antara olah hati, olah rasa dan olah raga. Ujung dari kesemua itu, disebut dengan: physical and spiritual cleansing.

Ibadah haji itu mirip dengan demonstrasi dari kesatuan umat manusia. Ada semacam spirit humanisme universal. Dan Ka’bah adalah titik kesatuan dari umat manusia. Disana tak ada stratifikasi sosial apalagi hirarki keagamaan, seseorang tak lagi dilihat apakah memakai ONH Plus atau ONH Reguler.

Tak juga dilihat apakah menuju tanah suci berjalan kaki atau naik pesawat, sepanjang sanggup, silah mendekat ke ka’bah. Hal ini mengindikasikan, betapa kuatnya nilai-nilai demokrasi dan kesetaraan dalam Islam.

Selamat jalan para tamu Allah, selamat menikmati ritual haji. Bersihkan hati dan niat agar mimpi untuk menjadi haji yang mabrur bisa terwujud.

Click to comment

BERITA POPULER

To Top