Penyambungan Jembatan Kaleke Dikebut – Palu Ekspres
Daerah

Penyambungan Jembatan Kaleke Dikebut

CUKUP MEMBANTU – Inisiatif warga membangun jembatan sementara cukup membantu untuk melancarkan distribusi barang dan orang. (KIA/PE)

Warga Manfaatkan Jembatan Darurat
PALU, PE – Jalur transportasi yang menghubungkan Desa Maku dan Desa Kaleke – Sigi, kini tinggal bergantung pada jembatan darurat hasil kreasi warga setempat. Sekalipun darurat, namun  cukup membantu arus barang dan orang di dua desa bertetangga itu. Menurut Diman (47) tahun, ia dan beberapa warga di desa itu, berinisiatif membangun jembatan sementara untuk memudahkan lalulintas warga di dua desa itu.

Terlebih kata dia, banyak anak sekolah di Desa Maku yang  bersekolah di Kaleke. Jika tidak ada jembatan darurat, dapat dipastikan anak-anak itu tidak bisa bersekolah. Untuk memaksakam menyeberang sungai pun ungkap Diman nyaris mustahil karena arusnya deras. ”Apa lagi jika hujan di bagian hulu dipastikan banjir, arusnya deras dam dalam,” cerita Diman kepada Palu Ekspres Selasa 31 Mei 2016.

Akses lainnya, adalah memutar menuju Palu. Itupun nyaris mustahil dilakukan karena jaraknya yang jauh serta tidak ekonomis. ”karena itu akses satu-satunya adalah memanfaatkan jembatan darurat sembari menunggu perbaikan jembatan rampung,” ungkap Diman. Rekan Diman lainnya, Asip warga Kaleke menjelaskan, ide  membuat jembatan kayu muncul tatkala menyadari tingginya ketergantungan warga di dua desa itu terhadap jembatan dengan konstruksi baja tersebut.

Mulai pekerja kebun, buruh pasir, anak sekolah hingga pegawai kantoran menggunakan jembatan itu sebagai akses satu satunya. Ia dan beberapa rekannya lalu mengumpulkan kayu sisa jembatan dan beberapa pohon kelapa, membuat jembatan seadanya. Hasilnya, ternyata cukup membantu. Arus transportasi tidak putus.  Jembatan darurat itu hanya cukup dilalui motor dan orang.

Untuk melintasi jembatan itu, satu buah motor dipungut Rp5.000 sekali jalan. Sehari bisa 300 lebih motor yang menggunakan jasa jembatan penyeberangan tersebut. Hasilnya ungkap Diman dibagi rata oleh 5 – 10 orang yang berjaga sepanjang hari.

Untuk menyeberang, motor harus dituntun oleh dua sampai tiga orang. Kemiringan jembatan yang terjal dan lebar yang hanya sekira satu meter membuat motor bisa oleng bahkan jatuh di sungai. Karenanya, untuk menyeberang motor harus ditarik dua orang dengan tambang. Dan seorang lagi di atas motor mengendalikan setir agar tidak jatuh.

Demikian seterusnya hingga jam 20.00. Menurut Diman, sejak subuh mereka sudah bersiap di ujung jembatan menanti warga di dua desa itu yang hendak menyeberang. Berapa hasil yang didapat? Baik Diman maupun Asip enggan membeber sangu yang diperoleh.

”Tujuannya kita bukan soal ini. (uang). Tapi bagaimana anak-anak kami bisa sekolah. Soal tarif, terpaksa ditentukan besarannya karena kami juga beli pohon kelapa. Paku juga dibeli,” katanya. Sekalipun hasil yang didapat dari ”narik” motor setara dengan penghasilan buruh pasir, Diman berharap perbaikan jembatan Kaleke secepatnya rampung. ”Tidak mungkin kita berharap jembatan seperti ini, kalau banjir ilang semua,” katanya.

Dari  pantauan Palu Ekspres, proses penyambungan jembatan Kaleke terus dikebut. Dua alat berat tampak bekerja bergantian mengeruk pasir. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sigi, H. Ir Iskandar Nontji MM, mengatakan, akan mengupayakan proses perbaikan jembatan rampung secepatnya. (kia)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top