Pengoplos Beras untuk Warga Miskin Ditangkap – Palu Ekspres
Daerah

Pengoplos Beras untuk Warga Miskin Ditangkap

BONGKAR KECURANGAN: Aparat Polresta Sidoarjo menyegel gudang pengoplosan beras. foto Chandra Satwika/Jawa Pos

PALU EKSPRES, SIDOARJO – Tim Satgas Pangan Polresta Sidoarjo kembali menemukan pelanggaran. Terbaru, petugas menggerebek sebuah tempat penggilingan padi yang juga menjual rastra (beras sejahtera) di Desa Sawocangkring, Wonoayu, Sidoarjo. Usaha curang itu dikelola M. Ifan.

Modus pelaku adalah mengolah ulang rastra yang berkualitas rendah. Lalu, beras yang dahulu disebut raskin (beras untuk warga miskin) itu dikemas dalam karung beras bermerek sebelum dijual ke pasar. Di antaranya, beras bermerek Raja Lele, Padi Beruang, Bintang Timur, Raja Tawon, dan Dua Madu. Harapannya, minat beli masyarakat menjadi tinggi.

”Hasil penyelidikan kami menemukan adanya pelaku usaha beras yang melakukan penimbunan,” kata Kasatreskrim Polresta Sidoarjo Kompol Muhammad Harris.

Menurut Harris, beras yang ditimbun adalah rastra yang sejatinya diperuntukkan warga dengan ekonomi bawah. Ternyata, usaha terlarang itu sudah berjalan tiga tahun. ”Beras rastra lebih dulu dipoles sebelum dipasarkan,” ungkapnya.

Dari hasil penggerebekan itu, petugas mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, 86 karung rastra dengan berat masing-masing 15 kilogram, mesin pemoles beras, dan 90 karung beras bermerek yang berasal dari hasil olahan ulang pelaku. ”Beras olahan dijual ke Pasar Sepanjang dan Pasar Krian,” kata Harris.

Meski begitu, kata dia, bukan tidak mungkin wilayah peredaran beras itu sudah menyebar ke semua kawasan Kota Delta dan sekitarnya. ”Masih terus kami dalami,” imbuhnya.

Mantan Kapolsek Simokerto, Surabaya, itu menerangkan, selama ini pelaku mempekerjakan dua pegawai. Dalam sehari, tempat usaha itu mampu memproduksi 10 karung beras ilegal. Masing-masing karung memiliki berat 15 kilogram. ”Omzet bersih dalam sebulan Rp 6 juta,” ucap perwira polisi dengan satu melati di pundak tersebut.

Gudang yang dijadikan lokasi pemolesan beras rastra adalah bangunan milik pelaku. Usaha penggilingan padi itu sudah berlangsung turun-temurun. Namun, sejak dikendalikan pelaku beberapa tahun terakhir, fungsinya ikut berubah. ”Beras rastra dibeli pelaku dari warga sekitar dengan harga Rp 70 ribu per 15 kilogram atau satu karung. Lalu, setelah diolah, oleh pelaku dijual kembali dengan harga Rp 100 ribu,” terangnya.

Harris menuturkan, setidaknya ada lima pasal yang dapat disangkakan kepada pemilik tempat usaha tersebut. Di antaranya, pasal 170 jo 29 ayat (1) UU Nomor 27 Tahun 2014 tentang Perdagangan, pasal 8 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan pasal 2 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Juga, pasal 55 dan 480 KUHP. ”Masih memungkinkan semua,” katanya.

Ifan menyatakan, pihaknya membeli mesin pemoles beras dengan harga Rp 8 juta. Mesin itu awalnya digunakan untuk memperbaiki beras biasa yang telah diproses dari tempat penggilingan padi. Belakangan dia tertarik dengan keuntungan mengolah beras rastra. Karung beras bermerek dibeli dari penjual barang bekas. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp 3 ribu per biji. ”Bahan baku beras olahan dari warga,” ujarnya.

Menurut Ifan, beberapa warga juga sengaja menukarkan rastra dengan beras bermerek. Sebab, kualitas rastra sangat buruk dan tidak layak dikonsumsi. ”Berasnya kotor dan berdebu. Untuk 15 kilogram beras rastra dapat tukar dengan Rp 10 kilogram beras biasa,” ungkapnya.

(edi/c6/hud)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!