Pengakuan Penggemar Film Dilan 1990, Nonton Hingga Puluhan Kali di Bioskop – Palu Ekspres
Palu

Pengakuan Penggemar Film Dilan 1990, Nonton Hingga Puluhan Kali di Bioskop

”ANYWAY sebenarnya alur ceritanya ringan dan biasa saja. Hampir tidak ada konflik. Kalau pun ada, ya sebenernya sepele. Film ini berjalan dengan manis dan baik-baik saja. Fluktuasi emosi hanya muncul di setiap scene yang ada Dilan dan Mileanya. Ya sudah begitu-begitu saja”

****

Ini statemen pembuka, Devi Borman seorang PNS perempuan yang mengaku hingga malam tadi atau 32 hari sejak Film Dilan 1990 tayang di bioskop, ia sudah 21 kali nonton film itu di XX1 Palu. Ini tidak hanya luar biasa tapi juga agak ”keterlaluan”. Ya Devi seorang ibu rumah tangga yang saban harinya harus menempuh jarak Palu – Donggala 30-an kilo pulang pergi, malam harinya bahkan masih mempunyai energi yang cukup untuk duduk sejam lebih di layar bioskop memelototi akting Iqbal dan Vanesha yang kualitas aktingnya menurut beberapa pengamat film masih belum seberapa.

Bincang-bincang santai di warkop Aweng & CO diiringi tembang lawas, Benci Tapi Rindu (Diana Nasution) dan The Actor milik MLTR, membuat Devi lancar merekonstruksi cerita manis khas ABG 90-an, semasa SMP terlebih lagi kenangan indah di SMA 1 Palu 25 tahun silam.

Lantas apa yang membuat ibu tiga anak ini begitu keranjingan dengan film yang alur ceritanya sebenarnya cocok untuk ketiga anaknya? Ditanya seperti itu, putri pasangan Mantan Ketua DPRD Donggala almarhum Sutomo Borman dan Hj Arifah Lembah hanya merespons ringan – seringan camilan pop corn yang menemaninya kala setiap kali nonton Dilan 1990 itu. Menurut perempuan manis ini, Dilan itu tipe cowok yang digandrungi abege saat itu.

Dan sangat bernyali. Misalnya, datang ke rumah cewek pamit sama orang tua si cewek. Bisa menempatkan dirinya. Bagaimana saat di rumah dan bagaimana berada di komunitasnya sebagai pimpinan gank motor di Bandung. Ia juga menunjukkan sisi maskulinitas sebagai pelindung bagi perempuan yang disayanginya. Itu terlihat dari gesturnya, gaya bicaranya plus gombalannya.

”Pokoknya lucu, cowok 90-an kan kurang lebih seperti itu,” katanya mengenang. Gombalan Dilan dinilai punya value tidak seperti gombalan laki kekinian, garing miskin makna. Mirip asap rokok – menguap kemana-mana tapi meninggalkan nikotin yang membahayakan orang di sekitarnya. Gombalan laki sekarang kurang lebih seperti itu. Garing, lebay dan – maaf agak norak.

Karena noraknya itu biasanya bikin sakit hati. Misalnya, eh cewek apa bedanya kamu sama kalander? Kalo kalender setiap hari berganti, sedangkan kamu tak kan tergantikan selamanya di hatiku. Padahal, terima notif Watssap sembunyi-sembunyi hanya karena ada pesan masuk dari cewek lain. Atau ada juga lanjut alumni SMA Negeri 1 Palu 1993 silam ini, gombalan lainnya, misalnya, abang OTW yah…!!! si ceweknya: OTW kemana bang ?? dibalas sama cowok OTW …kehati kamu….!!.

”Terus terang yang begini ini, bikin ilfil,” ungkap Devi tertawa. Satu lagi yang meninggalkan kesan kuat di Film Dilan 1990, adalah gombalan teka teki silang. ”betul-betul ini sangat out of the box,” katanya mengingat penggalan adegan gokil di Film Dilan itu. Selain karakter Dilan, satu lagi yang membuat penghobi olahraga lari ini, adalah sosok Iqbal Ramadan itu sendiri.

Jauh sebelum film ini dibesut, ia sudah mengidolai mantan personel Coboy Junior (CJR) itu. ”Kebetulan saya membaca novelnya, suka plot ceritanya. Pas diangkat ke layar lebar, eh ketemunya sama si Iqbal ini, jadi kloplah,” katanya lagi.

Prev1 of 3

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!