Pembentukan Karakter Sebagai Kunci Pembangunan Peradaban Masyarakat – Palu Ekspres
Daerah

Pembentukan Karakter Sebagai Kunci Pembangunan Peradaban Masyarakat

SALAT IED – Suasana salat Ied di lapangan Islamic Centre Untad, Minggu 25 Juni 2017. Foot IMAM/PE

 

PALU EKSPRES, PALU – Salah satu kunci sukses Nabi Muhammad SAW yang paling menonjol, dalam membangun peradaban masyarakat di Madinah, ialah dalam pembangunan masyarakat tersebut, Nabi mengutamakan perbaikan budi pekerti (akhlakul karimah).

Hal ini menjadi inti khutbah salat Idul Fitri (Ied) 1438 H/2017 M, yang disampaikan oleh salah seorang dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Dr. Rusli, saat menjadi khatib pelaksanaan salat Ied bersama civitas akademika Universitas Tadulako (Untad), di lapangan Islamic Centre Untad, Minggu (25/6).

Hadir dalam salat Ied tersebut, civitas akademika Untad, termasuk Rektor Untad Prof. Dr. Muh. Basir, serta para Dekan dan masyarakat sekitar.

“Budi pekerti yang luhur, pada hakikatnya adalah hikmah kemanusiaan dari ibadah puasa. Budi pekerti yang luhur adalah tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW oleh Allah SWT,” ujar Dr. Rusli.

Ia menyampaikan, perbaikan akhlak merupakan sebuah hal yang sangat penting, karena adanya korelasi yang kuat antara suksesnya seorang individu dan kelompok atau masyarakat, dengan budi pekerti yang luhur.

Begitupun sebaliknya, karakter yang buruk hanya akan mengantarkan seseorang atau sekelompok umat kepada kehancuran.

“Kasus ini dapat dilihat pada sejarah pengalaman umat Islam, pada saat kejayaan Islam di Baghdad. Pada saat itu umat Islam menjadi pusat peradaban dunia, dengan Baghdad sebagai sentralnya, dipenuhi gedung-gedung besar dan mewah. Akan tetapi, ketika mereka kemudian menjadi orang-orang fasik, yang sudah tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, serta hati mereka sudah gelap, tertutup karena hidup mewah bergelimang harta, akhirnya mereka dibinasakan sehancur-hancurnya oleh oleh bangsa Mongol,” lanjutnya.

Ia juga menyebutkan, salah satu nilai moral yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui ibadah puasa, ialah berupa pengembangan rasa empati kepada orang lain. Nilai tersebut, terkandung dalam anjuran untuk mau peduli kepada orang lain, khususnya orang-orang tidak mampu.

Di antaranya melalui zakat mal dan zakat fitrah, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk anjuran untuk melakukan amalan-amalan sosial, yang pahalanya akan dilipatgandakan.

“Pengambangan empati di dalam hati dan kesadaran kita, adalah sangat penting. Steven Covey dalam bukunya ‘Seven Habits of Highly Effective People’ bahkan memasukkan empati, sebagai salah satu kebiasaan dari orang-orang sukses di dunia. Untuk itu, kembangkan sikap empati kepada orang lain, maka akan muncul penghargaan dan kasih saying,” tandas alumnus Doktoral Hukum Islam IAIN Sunan Ampe Surabaya ini.

(abr/Palu Ekspres)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top