PBNU Tetap Hargai Jamaah yang Baru Salat Ied Hari Senin – Palu Ekspres
Nasional

PBNU Tetap Hargai Jamaah yang Baru Salat Ied Hari Senin

PALU EKSPRES, JAKARTA – Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Maman Imanulhaq, menanggapi kelompok masyarakat yang baru melaksanakan salat Idul Fitri hari ini, Senin (26/6).

Dia menjelaskan, PBNU tetap menghargai perbedaan dalam menyikapi awal dan akhir Ramadan. “Toleransi dalam hal ini karena perbedaan metode dan referensi,” ujarnya kepada JawaPos.com.

Namun, NU katanya tetap menganjurkan masyarakat terutama kaum Nahdliyin untuk mengikuti keputusan pemerintah. “Baik dalam penetapan awal Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha,” imbau Maman.

Hal ini menurutnya, sesuai dengan Hadits Nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiallahu’anhu. Di dalam HR. Tirmidzi 632, Ad Daruquthni 385 menyebutkan, Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘hari puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih’.

“Faidah hadist ini adalah puasa dan lebaran bersama pemerintah dan mayoritas orang setempat,” jelasnya.

Dalam hadits itu, At Tirmidzi setelah membawakan hadits tersebut berkata, “Hadits ini hasan gharib, sebagian ulama menafsirkan hadits ini, mereka berkata bahwa maknanya adalah puasa dan berlebaran itu bersama Al Jama’ah dan mayoritas manusia,” pungkas Maman.

Diketahui, setidaknya ada empat masjid di Jakarta yang menjalankan salat Idul Fitri hari ini, Senin (26/6). Selain Masjid Ghairu Jami Baitur Rahman, ada pula Masjid Marzuqiyah di Cipinang Muara, dan Masjid Baiturrahman di Tebet Timur dan Tebet Selatan.

“Di Jakarta ada empat tempat,” ujar Pengurus Masjid Ghairu Jami Baitur Rahman, Al Faqih Ustaz Abdul Khair bin Mugni di Cipinang Muara, Jakarta.

Adapun keempat masjid itu dalam menentukan hari penting bagi umat Islam, berdasarkan kitab Tamizulhaq dan Aiqozonmiyam karangan Said Usman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya.

“Sesuai dengan kaidah mufalaqiyah, kami hanya jalankan keyakinan yang dibimbing guru-guru kami,” tutur Al Faqih.

Adapun salat Id yang diselenggarakan hari ini karena mereka melihat dengan mata telanjang, hilal di awal Ramadan hampir delapan derajat.

“Pada saat itu perjalanan bulan berikutya, bulan sudah ditentukan. Kondisi empat derajat atau di bawahnya. Alhamdulillah tidak bisa dibuktikan di Jakarta dan sekitarnya. Itupun di daerah timur Indonesia,” jelas Al Faqih.

Karena itu, mereka belum bisa mengikuti ketetapan pemerintah bahwa Idul Fitri jatuh pada hari, Minggu (25/6) kemarin. “Karena keyakinan kami belum sampai waktunya melaksanakan Idul Fitri. Kami ikuti berdasarkan pengetahuan falakiyah yang ada. Kitabnya kami punya dan nggak ngasal,” pungkas Al Faqih.

(jpg/fajar)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!