Merkuri di Muara Sungai Poboya di Bawah Ambang Batas – Palu Ekspres
Palu

Merkuri di Muara Sungai Poboya di Bawah Ambang Batas

PALU EKSPRES, PALU – Akademisi dan Politikus mengapresiasi tindakan penambang emas Poboya, Kecamatan Mantikulore, Palu yang meninggalkan merkuri dalam pengolahan emas. Kesadaran masyarakat ini diyakini telah memberi dampak signifikan bagi perbaikan lingkungan di Palu dan sekitarnya.

Dosen Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Isrun Muh Nur menyebutkan, bila memang warga bersepakat tak lagi menggunakan merkuri di area penambangan emas, maka dia yakin kondisi lingkungan pasti membaik.

“Jadi kalau tidak ada lagi penggunaan merkuri, maka akan signifikan penurunan pencemarannya. Sebab tadi pencemarannya setiap hari mencapai 150 mililiter dikali 17 ribu sekian tromol dikali penggunaan tiga kali sehari. Jadi penghentian pemakaian merkuri ini dampaknya besar sekali,” terang Isrun, Selasa (3/10), sebagaimana dikutip laman kabar24.bisnis.com.

Sementara buat area yang telah tercemar butuh proses yang tak dapat diprediksi. Tapi kata Isrun, bukan tak mungkin keadaannya dapat terus menurun di masa-masa selanjutnya, karena bahan merkuri dapat menguap dalam temperatur panas.

Peneliti Universitas Tadulako lainnya, Sandy Purnawan mengungkapkan hal senada. Pola perilaku masyarakat penambang ini juga diamati positif bagi dia yang pernah meneliti konsentrasi merkuri dalam sedimen di sekitar muara Sungai Poboya di tahun 2012 ini, perubahan perilaku ini akan makin memberi dampak positif bagi lingkungan di Poboya.

Hasil penelitian Sandy bersama dua rekannya yang berjudul ‘Distribusi Logam Merkuri Pada Sedimen Laut Di Sekitar Muara Sungai Poboya’ menunjukkan kalau konsentrasi merkuri dalam sedimen di sekitar muara Sungai Poboya berkisar antara 0,0103 mg/kg – 0,185 mg/kg. Nilai itu masih berada di bawah ambang batas yang diizinkan ini, terjadi di tengah kondisi masih maraknya penggunaan merkuri di kawasan tambang emas Poboya pada waktu itu.

Sandy dan teman-temannya waktu itu juga mendapati kalau akumulasi logam Hg dalam sedimen di sekitar muara Sungai Poboya juga tak mengalami penambahan yang signifikan dengan bertambahnya waktu. Diyakini, dengan langkah warga meninggalkan penggunaan merkuri, kondisi lingkungan akan makin baik.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Satya Wira Yudha juga menyambut baik kesadaran warga meninggalkan penggunaan merkuri. Untuk kepentingan pertambangan saat ini, ia mengungkapkan sianida dapat digunakan sebagai pengganti merkuri.

Hal ini dikemukakannya berdasarkan pernyataan pihak BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII beberapa waktu lalu. Sianidasi Emas, yang juga dikenal sebagai proses sianida atau proses MacArthur-Forrest adalah teknik metalurgi untuk mengekstraksi emas dari bijih kadar rendah dengan mengubah emas ke kompleks koordinasi yang larut dalam air. Proses inilah yang paling umum digunakan untuk ekstraksi emas.

Dengan digunakannya sianida sebagai alternatif, diharapkan tak ada lagi pertambangan baik dikelola secara tradisional oleh rakyat, perusahaan besar atau menengah yang menggunakan merkuri.

(aa)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top