Mengapa Manchester jadi Sasaran? – Palu Ekspres
Internasional

Mengapa Manchester jadi Sasaran?

PALU EKSPRES, LONDON – Teror bom yang terjadi usai konser Ariana Grande membawa kenangan 21 tahun silam. Tepatnya pada 15 Juni 1996. Saat itu, kelompok pemberontak IRA menyulut bom di pusat perbelanjaan Arndale. Sebanyak 1.496 kilogram bom buatan mereka masukkan di dalam truk dan booom! Itu adalah bom terbesar yang diledakan di Inggris sejak Perang Dunia Kedua.

Ledakan tersebut menyisakan kehancuran besar buat Manchester. Lebih dari 200 orang terluka. Dan, bangunan sampai sejauh lebih dari dua kilometer ikut hancur. Tetapi saat itu tidak ada korban jiwa meski kerugian yang ditimbulkan mencapai miliaran Rupiah.

Ben Chu, seorang editor media ternama di Inggris, adalah salah seorang saksi mata kejadian yang berlangsung lebih dari dua dekade itu. Chu menulis, tidak adanya korban jiwa dalam kejadian tersebut tak lepas dari peringatan yang diberikan IRA sebelum mereka menyulut bom. ”IRA memberikan perintah untuk evakuasi kepada warga kota dan itu bedanya dengan serangan bom yang terjadi di Manchester Arena Senin (22/5) malam,” tulis Chu dalam opininya.

”Pelaku bom bunuh diri tidak memberikan peringatan. Dan horor yang ditimbulkan mereka lebih mengerikan. Kali ini teror menyerang anak muda yang menghadiri konser pop. Ini membuat serangan ini seolah milik kategori yang berbeda,” sambungnya.

Mengapa Manchester? Chu memaparkan, pembangunan Manchester dimulai sejak bom 1996 itu. Kota membalas kehancuran tersebut dengan program pertumbuhan urban yang pesat. Sistem transportasi dikebut, gedung, renovasi, membersihan, dan dunia bisnis berkembang dengan dinamis. ”Tampilan stasiun Victoria yang tidak menarik sebelumnya, baru saja direnovasi dan selesai dua tahun yang lalu. Stasiun itu pun terhubung dengan kompleks Manchester Arena tempat lokasi ledakan.”

Investasi publik pun masuk Manchester dengan masif. Ribuan perusahaan baru datang. Perusahaan internasional mulai Adidas sampai Kellogg membuka markas besarnya di Manchester. Pun demikian, kata Chu, dengan investasi dari Tiongkok.

”Manchester menunjukkan bahwa mantan kota industri bisa tumbuh dan berkembang dengan cantik,” sambungnya. Perkembangan itu lah yang mungkin, kata Chu, menarik perhatian para pelaku teror.

Manchester menjadi kota multikultural yang semarak. ”Keterbukaan kota saya ini lah yang membuatnya rentan. Rentan atas serangan semacam ini. Tetapi, kami tidak akan menyerah. Kami memiliki kekuatan. Dan kekuatan itu, sekali lagi, akan menunjukkan dirinya sendiri,” tutup Chu.

(independent/guardian/telegraph/tia)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!