Makan Coklat dari Sentra Usaha Binaan BI di Gunung Kidul Yuk! – Palu Ekspres
Daerah

Makan Coklat dari Sentra Usaha Binaan BI di Gunung Kidul Yuk!

YOGYAKARTA, PE РKegiatan peningkatan kapasitas (capacity building) jurnalis yang digelar BI Sulteng tahun ini mengambil lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  BI melibatkan 10 media lokal Sulteng dalam kegiatan  pembangunan kapasitas jurnalis peliputan ekonomi.

Agenda utama kegiatan itu mengunjungi Desa
Nglanggeran Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Salah satu desa percontohan pengembangan petani dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) binaan BI.

Di desa ini, BI mengintervensi petani dan UMKM dengan bentuk program pengembangan pertanian terintegrasi kepariwisataan. Coklat menjadi komoditi sasaran pengembangan budidaya. BI memberikan pendampingan dan peta jalan (road map) dengan target tiga tahun. Memfasilitasi petani dan pelaku UMKM dengan sarana serta mempermudah akses pinjaman perbankan termasuk bimbingan teknis.

Konsultan Pengembangan UMKM BI Yogyakarta, Mahmudin menjelaskan, tiga tahun terakhir petani berhasil membudidayakan komoditi coklat hingga menjadi makanan dan minuman olahan siap saji. Awalnya kata Mahmudin, petani di kawasan itu belum memprioritraskan coklat sebagai potensi perkebunan.

“Karena memang Gunung Kidul termasuk daerah kering, airnya kurang sehingga petani mayoritas mengembangkan tanaman yang tahan air saja. Coklat hanya dijadikan tanaman tumpang sari,”jelasnya.

Di Desa Nglanggeran kini bisa ditemui sentra budi daya coklat. Terdapat sedikitnya lima gabungan kelompok tani (Gapoktan) petani coklat pembudidaya. Potensi pariwisata berupa kawasan gunung api purbakala di Nglanggeran kini menjadi magnet kunjungan wisata.

Hasil produksi coklat petani di desa itu kini langsung tersalur pada sentral pengolahan coklat. Nilai tukar coklat yang awalnya rendah kini menjadi tinggi karena pola itu.

“Jadi hasil olahan coklat ini juga menjadi peluang baru bagi UMKM,”ujarnya.

Menurutnya BI Yogyakarta memiliki peran dalam mengontrol inflasi serta medorong pengembangan produk daerah. Dengan intervensi itu diharapkan bisa memberi nilai tambah bagi petani.
“Meningkatkan kualitas olahan jadi. Penguatan kelembagaan serta menciptakan kampung wisata coklat yang terintegrasi wisata dan pertanian. Itu upaya untuk mudahkan pasar hasil olahan coklat,” urainya.

Deputi Kepala Perwakilan BI Sulteng Hindratmoko, menambahkan pihaknya juga akan mencoba pola serupa di Sulteng. Peluang itu menurutnya bisa melalui pengembangan cabe, tenun donggala atau produk unggulan daerah lainnya.

“Kedepan kita akan lakukan. Saat ini BI Sulteng masih fokus dan memrioritaskan inflasi daerah,”pungkasnya.

(mdi/Palu Ekspres)

Click to comment
To Top