Kok Rokok Dibatik? Pakai Kopi Lagi – Palu Ekspres
Daerah

Kok Rokok Dibatik? Pakai Kopi Lagi

Afandi, perajin Cethe (Rieska/JawaPos.com)

PALU EKSPRES, JAKARTA – Teknik membatik di atas medium kain mungkin sudah biasa, tetapi ada teknik membatik yang dilakukan di atas medium yang lebih kecil. Cethe, merupakan teknik membatik di atas kertas. Bukan kertas biasa, tetapi cethe dilakukan di kertas rokok. Cethe artinya ampas kopi.

Budaya cethe awalnya lahir di Tulungagung, Jawa Timur dan kini mulai menyebar ke daerah pesisir lainnya. Berbeda dengan membatik pada umumnya yang menggunakan canting dan malam, cethe menggunakan ampas kopi, vanili, dan susu. Cethe mencampurkan rempah kopi, vanili, dan cengkeh dalam rokok.

Sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal mengungkapkan asal usul cethe. Seni ini merupakan salah satu bentuk budaya yang menggambarkan masyarakat Indonesia sebagai Homo Ludens, di mana manusia tidak selalu harus bekerja tetapi perlu menyediakan waktu untuk bersantai atau bermain.

“Justru dengan memanfaatkan waktu bersantai untuk berkreasi inilah, lahir berbagai karya seni budaya yang tersebar di seluruh wilayah nusantara,” ungkap JJ Rizal di Jakarta Fair, Sabtu (10/7).

Cethe juga dapat dikaitkan dengan sejarah batik yang panjang dan tradisi ‘ngerawit’ (sebutan untuk motif batik yang penuh, rumit, sulit) yang kuat. Di sinilah akhirnya sebuah produk budaya (batik) melahirkan produk budaya lain yakni cethe sebagai bentuk reka cipta. Terinspirasi dari membatik, lahirlah budaya nyethe yaitu kegiatan mengoleskan ampas kopi ke batang rokok membentuk motif-motif tertentu, seperti batik, sulur, tulisan, sampai tribal.

“Jadi cethe ini fungsinya bukan hanya sebagai kesenian, tetapi memperkuat aroma rokok itu sendiri. Cethe adalah hasil kreasi batik dengan medium berbeda. Tumbuh di masyarakat pesisir juga ciptakan batik yang dilahirkan di medium yang kecil,” tuturnya.

Cethe mengandung vanili yang merupakan salah satu rempah yang terbesar dihasilkan di Indonesia. Salah satu perajin Cethe, Afandi warga Bekasi, begitu telaten dalam membatik di atas rokok. Dia menggunakan ampas kopi dan lidi untuk melukis setiap goresan.

Dia membutuhkan waktu 10-15 menit untuk menghias satu batang rokok. Menurut Afandi, diperlukan ketekunan dan kesabaran dalam menghias tiap batang rokok. Ternyata sejarahnya, cethe diciptakan hanya untuk menaburkan bubuk kopi di atas rokok. Namun belakangan, cethe berubah menjadi seni.

“Semakin populer setahun terakhir, dan sudah menjadi seni. Sejumlah kafe sudah mulai banyak menyediakan seni cethe. Karena tak hanya menarik dipandang, tetapi cethe juga menambah rasa,” tutur Afandi.

(cr1/JPG)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!