Kesaksian Pengungsi Rohingya: Adik dan Paman Saya Ditembak – Palu Ekspres
Nasional

Kesaksian Pengungsi Rohingya: Adik dan Paman Saya Ditembak

Para Pengungsi Rohingya di Rumah Deteksi Imigrasi (Rudenim) Belawan, Sumut. (Fachril/Sumut Pos/JawaPos.com)

PALU EKSPRES, BELAWAN – Krisis yang melanda etnis Rohingya, Myanmar tidak hanya terjadi belakangan ini saja, tapi sudah bertahun-tahun. Buktinya Indonesia telah menampung pengungsi pencari suaka dari Myanmar itu di sejumlah daerah.

Salah satu tempat penampungan pengungsi asal Myanmar itu yakni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Belawan, Medan, Sumatera Utara. Di sini ada 27 pengungsi Rohingya yang menjadi pengawasan Imigrasi setempat.

“Di depan mata saya, adik dan paman saya ditembak. Ayah saya diculik dan rumah-rumah dibakar. Semua keluarga saya habis. Makanya, saya memilih kabur ke negara luar,” kata Jabar, pengungsi Rohingya kepada Sumut Pos (Jawa Pos Group) kemarin (4/9).

Jabar lari dari Myanmar karena tidak tahan melihat kekejaman pemerintah dan militer pada lima tahun lalu. Selama berada di Rudenim Belawan, Jabar sudah fasih berbahasa Indonesia.

Dia bisa tiba di Indonesia dengan cara menggunakan sampan untuk mengarungi laut hingga menyasar ke daratan Indonesia. Kepergiannya ke Indonesia meninggalkan seorang anak dan istri.

Belakangan, dia mendapatkan kabar bahwa istrinya meninggal setahun lalu setelah ditembak militer Myanmar. “Sedangkan ibu, adik dan anak saya tidak tahu sekarang bagaimana. Karena rumah kami sudah habis dibakar,” ungkap pria 38 itu dengan nada sedih.

Pembantaian dan kekejaman yang terus-menerus terjadi menjadi trauma bagi Jabar. Makanya, dia memilih hidup di dalam penjara daripada hidup di Myanmar dengan kondisi tersiksa. “Kami tak mau pulang ke Myanmar. Kami lebih baik hidup seperti ini,” ungkapnya.

Harapan Jabar yang mewakili 27 imigran Rohingya Myanmar, mereka lebih baik menjadi warga negara lain yang bisa diakui pemerintah. “Kami sangat berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan kami kehidupan dan mengakui sebagai warga negara. Agar kami bisa bekerja dan berkeluarga,” harap pria yang hidup sebatang kara tersebut.

Disinggung tentang peristiwa yang belakangan ini terjadi, Jabar merasa sangat sedih dengan penderitaan saudara-saudara mereka. Bahkan, dia yakin pemerintah Myanmar akan terus membantai etnis Rohingya di sana.

Hal senada disampaikan Mussrof Husein, 21. “Saya kabur dari Myanmar karena rumah dan semua keluarga saya dibunuh. Sebelumnya, saya berada di Malaysia tiga tahun. Belakangan ini saya coba mencari kerja dan kabur ke Indonesia,” ujarnya.

Mussrof menyatakan, seluruh warga Rohingya yang berada di Myanmar mengalami pembantaian sadis. Mereka sangat mengharapkan perhatian dunia untuk keselamatan warga dan keluarga yang masih berada di Myanmar.

“Ini sudah lama terjadi. Saudara-saudara kami bakal terus disiksa dan dibunuh. Militer Myanmar sangat kejam. Kami tahu apa yang mereka rasakan di sana. Mereka pasti terancam dan tersiksa,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Rudemin Belawan Abdul Karim menjelaskan, adanya isu yang sedang hangat mengenai pembantai warga Rohingya tidak memengaruhi psikologis penghuni Rohingya di Rudemin Belawan.

“Mereka tahu ada peristiwa yang terjadi di negaranya. Tapi, kami terus memberikan terapi dan pemahaman secara psikologis melalui lembaga IOM yang datang berjumpa dengan para imigran,” kata Abdul Karim.

Di Rudenim Belawan, lanjut dia, ada 27 imigran Rohingya. Mereka dapat berbaur dengan para imigran lain dan tidak pernah melakukan tindakan di luar akal sehat. “Untuk saat ini, tidak ada masalah, khusunya bagi warga Rohingya Myanmar. Kami terus melakukan pengawasan dan memberikan pencerahan dengan pelatihan sosial, seni, penidikan, dan olah raga,” jelas Abdul Karim.

Ditanya jumlah seluruh penghuni di Rudenim Belawan dan apakah ada perselisihan atau kendala yang terjadi, Abdul Karim menyatakan bahwa ada 309 penghuni imigran dari berbagai negara seperti Srilangka, Myanmar, Somalia, Pakistan, dan Palestina.

“Seluruh imigran di Rudenim dapat berbaur dan bersosialisasi dengan baik. Jadi, selama ini tidak ada perselisihan atau tekanan mental yang dihadapi,” jelas Abdul Karim di ruang kerjanya.

(fac/bam/adz/c21/ami)

Click to comment

BERITA POPULER

To Top