Kabar Baik Bagi Petani Bawang, Tiga Peneliti Untad Temukan Tumbuhan Pengganti Pestisida – Palu Ekspres
Daerah

Kabar Baik Bagi Petani Bawang, Tiga Peneliti Untad Temukan Tumbuhan Pengganti Pestisida

MENELITI - Suasana di lokasi penelitian ama ulat daun bawang merah di Desa Sidera, Sigi

PALU EKSPRES, PALU – Tiga Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako meneliti pengendalian hama ulat daun bawang merah dengan pestisida nabati.

Lokasi penelitian yang sepenuhnya dibiayai Kementerian Riset Teknologo dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), tahun anggaran 2017 ini bertempat di Desa Sidera, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Ketiga Dosen Pertanian ini masing-masing Hasriyanty, Burhanuddin Nasir dan Idham Sanusi.

Menurut Hasriyanty, penggunaan pestisida kimia sintetik untuk mengendalikan organisme pengganggu pada tanaman budidaya memang menjadi masalah yang sangat dilematis, terutama pada tanaman sayuran termasuk bawang merah.

“Sampai saat ini petani umumnya masih menggunakan pestisida kimia sintetis secara intensif,” katanya.
Menurutnya, memang dengan digunakannya pestisida maka kehilangan hasil yang diakibatkan organisme penggangu tanaman (OPT) dapat ditekan, tetapi akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti berkembangnya ras hama yang resisten terhadap insektisida, resurjensi hama, munculnya hama sekunder, terbunuhnya musuh alami hama dan hewan bukan sasaran lainnya, serta terjadinya pencemaran lingkungan.

“Sedangkan, di sisi lain, tanpa pengunaan pestisida akan sulit menekan kehilangan hasil yang diakibatkan OPT. Oleh karena itu teknik pengendalian yang lebih ramah lingkungan menjadi alternatif yang dapat digunakan dalam upaya mengendalikan OPT misalnya dengan biopestisida dan pestisida nabati yang berasal dari lingkungan sekitar,” jelas Hasriyanty.

Dijelaskan, di lahan kering Lembah Palu banyak dijumpai tumbuh-tumbuhan yang berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif pestisida seperti tumbuhan “Sidondo” (Vitex negundo L.) dan tumbuhan patah tulang (Euphorbia tirucalli L.)

Tumbuhan tersebut tumbuh liar dan belum banyak dimanfaatkan.
Efektivitas kedua jenis tumbuhan ini sudah diuji pada beberapa jenis serangga hama. Namun pengujiannya masih terbatas pada pengujian aktivitas biologi. Demikian pula dalam pengujiannya lebih banyak dilakukan secara tunggal.

Namun ternyata dari hasil penelitian Riset Terapan ini diperoleh data bahwa ekstrak campuran kedua jenis tumbuhan ini bersifat bersinergi, artinya efektivitasnya meningkat jika keduanya diekstrak dan digunakan secara bersama sama.

Hasil penelitian ini menyimpulkan, pada skala laboratorium maupun skala lapangan, ekstrak campuran kedua tanaman tersebut lebih efektif untuk mengendalikan hama S. exigua dibandingkan dengan ekstrak tunggal.

(ran)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!